Bathara Kala Sang Dewa Waktu

Sumber Gambar : Google Images

Dalam dunia wayang seringkali kita melihat tokoh Bathara Kala dewa raksasa yang dikenal berwatak bengis dan kejam. Kemanapun dia pergi selalu bersenjatakan pedang untuk memotong dan mengiris-iris orang ‘sukerta’ lalu dimakannya sampai habis. Selain itu tokoh Bathara Kala sering dipandang sebagai tokoh jahat yang berwatak angkara murka. Hal itu hanya karena belum paham saja, sebab tokoh Bathara Kala yang selalu membawa pedang itu konon hanya untuk simbol waktu saja. Dari ajaran nenek moyang, waktu disimbolkan sebuah pedang yang tajamnya di depan, karena sang waktu memang hanya bisa maju ke depan saja. Makna kata bathara adalah ‘abadi’, sedangkan kata kala adalah ‘waktu’. Selama bumi ini masih berputar, maka akan tetap abadi ada sang waktu.

Bathara Kala saat memakan manusia biasanya dengan cara dipotong lalu diiris-iris terlebih dahulu lalu dimakannya sampai habis. Kata potong dan iris sesungguhnya hanya gambaran nama-nama waktu yang memang seperti dipotong dan diiris-iris. Seperti halnya waktu  pagi, siang, sore, senja, petang dan malam hari. Semakin banyak potongan atau irisan waktu yang dilewati oleh manusia, maka semakin dekat pula manusia itu ke alam kematiannya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang hidup, suatu saat pasti akan mati dimakan oleh sang waktu. Selain mencari orang ‘sukerta’, Bathara Kala juga mencari orang yang dianggap bersalah, karena telah membuang waktunya dengan percuma.

Orang yang dianggap bersalah oleh Bathara Kala, salah satunya bisa kita lihat dalam kisah cerita Murwakala. Ketika Bathara Kala sedang mengejar sukerta gedono gedini, mata Bathara Kala tertancap slumbat yaitu linggis alat pengupas kulit buah kelapa. Bathara Kala lalu mengumpat dan menyumpahinya: “Hee..!! bagi siapapun yang sehabis mengupas kulit kelapa dan slumbat linggisnya tidak dirobohkan lagi, maka rejekinya akan aku potong barang satu ketheng atau dua ketheng.” Yang dimaksud ketheng oleh Bathara Kala adalah mata uang jaman dahulu sebelum ada rupiah dan lainnya. Sedangkan maksudnya slumbat linggisnya dirobohkan lagi, agar tidak melukai kaki orang yang sedang lewat. Maka sebaiknya dikembalikan ketempat semula, agar sewaktu-waktu alat itu kita butuhkan lagi, kita tak akan kehilangan banyak waktu untuk mencarinya. Karena kehilangan banyak waktu, itu sama artinya kehilangan banyak rejeki yang berupa ketheng tadi. Hal ini menunjukkan bahwa orang jaman dahulu selain mengajarkan ketertiban, juga memberi pengertian bahwa waktu adalah uang, atau oleh orang barat sering disebut time is money.

 

 

Google Images

Lahirnya sang penunjuk waktu atau lahirnya Bathara Kala terdapat didalam kisah cerita Murwakala dalam tradisi budaya ritual ruwatan. Cerita Lahirnya sang Bathara Kala diawali ketika pada suatu siang ditengah hari, Sanghyang Pramesthi Bathara Guru sedang bercengkrama bersama Dewi Uma istrinya. Keduanya meniti Lembu Andini hewan sapi sakti, yang membawanya terbang diatas samudera . Ketika dengan tidak sengaja Sang Pramesthi Bathara Guru melihat betis Dewi Uma karena kain penutupnya diterpa angin, maka hati Sang Pramesthi Bathara Guru pun menjadi tergoda, Sehingga meneteslah air hina dari Sang Pramesthi Bathara Guru jatuh ditengah laut.

Dalam kisah Bathara Guru dan Dewi Uma yang dibawa terbang oleh hewan Lembu Andini itu tadi, konon hanya sebuah sindiran halus dari pujangga untuk keluarga muslim. Dalam cerita simbolisnya, setelah mendengar suara adzan dzuhur, Istrinya tidak segera mengambil air wudhu dan segera menutupi auratnya dangan kain rukuh, sehingga suaminya tergoda nafsu yang disimbolkan Lembu Andini tadi, maka pada akhirnya pasangan suami istri itupun terlena dibawa terbang melayang oleh nafsunya, sehingga lupa waktunya sembahyang dzuhur disiang hari. Dalam bahasa wayang, air hina Bathara Guru yang jatuh di laut disebut kama wurung dan kama salah. Wurung artinya ‘batal’, salah maknanya ‘khilaf’. Bathara Guru  batal bersembahyang dzuhur, karena hatinya menjadi khilaf setelah melihat betis istrinya yang putih menggoda. Begitulah maksudnya. Hal ini menunjukkan bahwa sindiran tadi hanya merupakan imbauan untuk kaum muslim, agar dalam membina cinta kasih dengan pasangannya jangan sampai melupakan waktunya sembahyang.

Setelah Bathara Guru kembali ke kahyangan Junggring Salaka, Sanghyang Baruna dewa penjaga laut datang menghadap memohon pertolongan, karena banyak ikan-ikan yang mati setelah mendekati benda bulat panas bersinar ditengah laut. Mendengar hal ini Sang Pramesthi Bathara Guru lalu memerintah Bathara Narada patih kahyangan ajudan Bathara Guru, agar mengajak para dewa turun untuk melebur benda tersebut. Para dewa pun turun untuk memberikan bantuannya dan berusaha memusnahkannya dengan berbagai macam senjata, namun benda bulat bersinar itu tetap bisa utuh kembali setelah air laut kembali tenang. Tak lama kemudian benda bulat bersinar itu lalu berubah wujud menjadi jabang bayi yang giginya bertaring dan berwajah raksasa. Bayi tersebut kemudian oleh dewa Bathara Narada dibawa menghadap Sang Pramesthi Bathara Guru. Didepan Bathara Guru Bathara Narada mengatakan, bahwa bayi yang dibawa itu putra Bathara Guru sendiri, yang terjadi dari air hinanya yang jatuh di laut, disaat Bathara Guru dan Dewi Uma melakukan hal yang tidak baik, karena dalam memadu kasih sampai lupa waktunya sembahyang. Bathara Narada bisa menyindir seperti itu karena didalam ceritanya Bathara Narada memang tahu semuanya.

Setelah melihat anaknya yang berwajah raksasa itu, Bathara Guru lalu berkata: “lho, putra ulun kok ala?” (lho anakku kok berwajah buruk?) Mendengar ucapan itu Bathara Narada lalu mengusulkan nama Kok ala untuk diberikan kepada putra Bathara Guru, agar sesuai dengan wajahnya yang buruk, karena kelakuan bapaknya juga buruk. Begitulah ucap Bathara Narada menyindir. Setelah semuanya setuju, nama Kok ala lalu diberikan kepada putra Bathara Guru tadi. Namun lama-kelamaan nama Kok ala lebih sering dipanggil ‘Kala’, karena lebih mudah cara menyebutnya. Selanjutnya putra Bathara Guru itu lalu lebih dikenal dengan nama Kala.

Setelah tumbuh dewasa, Bathara Guru meminta Bathara Narada untuk mengambil pakaian bekas milik Sanghyang Karung Kala dewa raksasa yang telah tiada, untuk dipakaikan kepada Kala putranya. Setelah itu lalu diberi tambahan nama depan Bathara, lalu disebut ‘Bathara Kala’. Melihat gigi taring Bathara Kala semakin memanjang, Bathara Guru merasa malu, lalu meminta Bathara Narada untuk mencabut kedua taringnya. Namun anehnya setelah kedua taringnya dicabut, taring itu berubah wujud menjadi dua keris pusaka, yang lalu  diberi nama Kala Misani dan Kala Nadah, yang lalu disimpan, kelak akan diberikan kepada ksatria yang pantas menerimanya. Gigi taring Bathara Kala yang berubah menjadi dua keris itu tadi menurut pengamat wayang ada pesan didalamnya. Makna kata kala sudah sering disebut ‘waktu’, Misani artinya ‘pertama kali’, atau juga bisa disebut ‘memulai’. Kala nadah artinya ‘waktu memakan’. Bila semua itu digabung, pesan yang tersimpan kira-kira artinya begini: “segera memulailah mengisi waktumu dengan kegiatan apa saja yang bersifat positif, karena diam-diam sang waktu telah memakan usiamu secara pelan-pelan”, begitulah maksudnya.

Pada suatu ketika Bathara Kala sedang berjalan sendirian dibawah pohon aren, dan melihat orang yang sedang nderes menyadap nira getah aren. Tanpa pikir panjang tangan Bathara Kala yang penuh dengan kuku tajam itu untuk menyambar tubuh tukang nderes aren itu lalu dimakannya sampai habis. Setelah merasakan nikmatnya daging manusia, Bathara Kala menjadi merasa ketagihan, lalu menghadap Sanghyang Pramesthi Bathara Guru untuk meminta jatah makan daging manusia. Mendengar permintaan seperti itu Bathara Guru menjadi khawatir, karena akan banyak orang yang akan menjadi korban dimakan Bathara Kala. Maka Bathara Guru lalu memberikan aturan tentang siapa saja orang yang boleh dimakan oleh Bathara Kala putranya itu. Orang yang boleh dimakan antara lain orang yang punya anak hanya 1, yaitu bernama sukerta bocah ontang-anting kebanting tunggake aren. Dua anak lelaki semua: Sukerta uger-uger lawang. Dua anak perempuan semua: sukerta kembang sepasang. Dua anak lelaki dan wanita: sukerta Gedono-gedini dan masih banyak nama-nama sukerta lainnya yang juga boleh dimakan oleh Bathara Kala. Singkat cerita Bathara Kala lalu pergi membawa pedang untuk mencari orang-orang yang dianggap sukerta.

Dalam kisah pertama kalinya Bathara Kala memakan manusia tadi, konon menyimpan pesan simbol yang bisa kita renungi. Dalam kebiasaan orang Jawa, memanjat pohon bisa diartikan orang yang sedang berusaha meniti karir untuk mencapai puncak tertinggi, makna pohon aren bersifat manis. Orang yang hanya mementingkan karir dan mengejar manisnya duniawi saja, biasanya lalu sering lupa bersembahyang dan beramal soleh.

Orang sukerta yang dicari Bathara Kala salah satunya adalah sukerta bocah ontang-anting kebanting tunggake aren. Sukerta anak tunggal ini biasanya mempunyai sifat manja yang berlebihan karena kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya, semuanya tercurah untuk anak yang hanya semata wayang ini. Ontang-anting berasal dari kata ‘ngontang-antingake’, yang artinya sering mempermainkan perasaan orang tua. Kebanting tunggake aren, kebanting artinya ‘terjatuh’, tunggak adalah pangkal pohon yang berarti ‘awal’, aren itu bersifat ‘manis’. Anak yang dari kecil hidupnya diawali dengan diberi tentang hal yang manis-manis atau sering dimanjakan, biasanya menjadi anak yang tidak bisa hidup mandiri. Tersandung masalah yang hanya sepele saja, mentalnya yang rapuh langsung terjatuh, hidupnya menjadi terasa pahit sekali. Sebagai orang tua sebaiknya jangan hanya sering memberi ikan saja kepada anak, karena selamanya dia tak akan tahu bagaimana caranya mengail ikan. Berikan saja dia kail, lama-kelamaan dia akan pandai mengail untuk mencari ikan sendiri. Begitulah pepatah kata mengatakan. Sukerta terdiri dari kata suker yang artinya ‘kotor’, dan ta bersifat ‘menunjukkan’. Anak yang dianggap kotor oleh pujangga cerita ini, adalah anak-anak yang menunjukkan sifat kotor, atau kurang baik tingkah lakunya. Karena anak yang dianggap bersih itu adalah anak yang penurut, dan berbakti kepada orang tuanya. Sukerta ontang-anting kebanting tunggake aren sebaiknya dimintakan hidayah agar tidak manja dan bisa hidup mandiri. Hal ini bisa dilakukan oleh orang tuanya sendiri, bisa minta bantuan ustadz, dan juga bisa minta tolong kepada seorang Dalang wayang kulit. Mengapa anak sukerta harus diruwat dan dimintakan hidayah kepada Tuhan? Karena hanya Tuhan-lah yang paling bisa merubah sifat anak yang perlu diruwat tadi.

Berakhirnya ritual ruwatan biasanya ditandai dengan pemotongan rambut anak yang diruwat oleh tangan Ki Dalang.  Rambut adalah simbol tumbuhnya keinginan-keinginan yang belum terarah secara baik didalam batin anak sukerta, sedangkan tangan Ki Dalang memotong rambut anak sukerta, artinya tangan Tuhan sedang merapikan dan merawat watak anak itu agar berubah menjadi lebih baik.

Dalam ritual ruwatan di panggung wayang kulit, kita sering mendengar istilah “dalang sejati” dan “dalang kandha buana”. Dalang sejati adalah ‘Tuhan yang maha kuasa’, wayangnya adalah semua makhluk yang hidup di dunia ini, sedangkan dalang kandha buana adalah dalang yang melakukan ritual ruwatan yang sedang disimbolkan sebagai duplikat Tuhan, titahnya atau umatnya yaitu semua wayang yang ada di panggung itu. Dalang ngruwat duduk diatas kain mori putih, artinya dia sedang menjadi simbol ‘Tuhan yang maha suci’.

Selain itu banyaknya sesaji atau sajen yang ada di panggung wayang, itu hanya sebagai simbol-simbol doa saja, agar doa Ki Dalang tak ada yang terlupakan. Doa-doa itu antara lain: doa mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Tuhan, doa menghormati para Nabi dan para Wali, doa untuk menghargai orang yang telah membuat nama hari dan hari pasaran kliwon wage dan seterusnya, doa menghormati makhluk astral penunggu alam dan tanah pekarangan, dan juga doa pengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu disekitarnya. Begitulah adat budaya orang Jawa, yang sering diajari untuk selalu berhati-hati dalam menjalani hidupnya.

Sajen sering disebut sebagai makanan dhemit. Dhemit berasal dari kata sidhem dan amit-amit. Sidhem artinya ‘tenang dan tentram’, amit-amit artinya ‘bertata-krama’. Orang yang sedang punya hajatan itu hatinya akan merasa tenang dan tentram, setelah bertata-krama memohon perlindungan kepada Tuhan dan bertata-krama untuk sekedar menyapa kepada makhluk astral penunggu alam dan tanah pekarangan ciptaan Tuhan-nya.

Makna kata ngruwat konon berasal dari kata ‘ngrumat watak’, yang artinya merawat watak. Dalang yang sedang ngruwat membaca kidung, artinya sang Dalang kandha buana sedang berdoa memohon kepada Dalang sejati, untuk memberikan hidayah dan merawat watak anak yang sedang diruwat itu agar menjadi berwatak baik. Sebelum Dalang ngruwat membaca kidung mantra, biasanya salah satu dari anggota rombongan wayang memberi tahu kepada para penonton, bagi ibu-ibu yang sedang hamil diminta menyingkir dari lingkungan panggung, anak-anak kecil yang sedang tidur diminta untuk dibangunkan agar melihat Ki Dalang yang sedang berdoa meruwat anak sukerta. Ibu-ibu yang sedang hamil diminta menyingkir, karena konon dikhawatirkan akan mengingatkan nafsu syahwat, karena melihat wanita hamil tentu lalu ingat apa yang dilakukan bersama suaminya sebelum dia hamil. Hal ini tidak boleh ada dipikiran Dalang yang sedang ngruwat, karena Dalang yang sedang ngruwat biasanya  juga melakukan puasa untuk menekan hawa nafsunya, agar tetap bersih hatinya saat memintakan hidayah untuk anak sukerta tadi. Anak-anak kecil yang sedang tidur diminta untuk dibangunkan agar melihat Ki Dalang yang sedang berdoa meruwat anak sukerta, artinya agar anak-anak kecil itu sejak dini diperkenalkan dengan Tuhannya, dan diajari berdoa supaya rajin sembahyang dan suka beramal soleh. Sebelum ibu-ibu yang sedang hamil itu menyingkir dari lingkungan panggung, biasanya banyak yang menitipkan telur ayam untuk didoakan Ki Dalang, agar anak yang sedang dikandungnya itu kelak menjadi anak penurut dan berbakti kepada orang tuanya. Hal ini menunjukkan bahwa melestarikan adat budaya ritual ruwatan, itu sama artinya dengan melestarikan petuah-petuah ajaran hidup yang ada didalamnya.

Setelah adanya program KB (program Keluarga Berencana), lalu banyak orang yang mengatakan bahwa anak yang terlahir, semuanya tentu akan masuk golongan sukerta. Apa itu artinya juga harus diruwat semua?  Hal ini tidak benar, karena kelahiran yang telah diatur dan direkayasa oleh tangan manusia, itu tidak bisa disebut sukerta. Begitulah menurut pendapat seorang Dalang maestro di kota kami.

Cerita terjadinya bayi Bathara Kala dari benda bulat yang panas dan bersinar tadi, itu konon hanya pesan simbolis saja, karena benda bulat yang bersinar menyilaukan mata itu tak lain hanyalah pantulan sinar matahari yang nampak di permukaan air laut. Maka lahirnya Bathara Kala ditengah laut, itu sama artinya dengan munculnya matahari sang penunjuk waktu, yang memang lebih jelas dilihat disaat kita sedang berada di tengah laut. Lahirnya Bathara Kala bukan dimaksudkan pertama kali terjadinya matahari, karena matahari telah diciptakan Tuhan sebelum manusia ada.

Bathara Kala digambarkan lahir di tengah laut tentu juga ada maksudnya. Karena berbicara tentang Bathara Kala, itu sama artinya sedang berbicara tentang masalah waktu. Orang yang paling merasakan panjangnya waktu adalah orang yang sedang berada di tengah laut. Sebab sinar  matahari tidak tertutup oleh gunung bukit dan pepohonan. Bila langit sedang bersih tak bermendung dan terlihat cerah, kemunculannya dari ufuk timur hingga sampai tenggelam di sisi barat, terasa lebih lama dibanding saat kita sedang berada didalam hutan.

Antara matahari dan waktu sesungguhnya memang tak sama. Namun keduanya memang saling berkaitan, karena nama-nama waktu juga tergantung dimana letak posisi matahari itu sedang berada. Setelah orang paham dan mengerti betapa pentingnya waktu, maka orangpun lalu berusaha menciptakan mesin penanda waktu yang kini dikenal dengan nama jam tangan dan jam dinding, guna menghitung langkah sang waktu dari mulai detik, menit hingga jam. Selain itu ada juga alat penanda waktu lainnya yang telah ada, yaitu kalender sebagai pengingat waktu dari mulai hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Dengan demikian orangpun menjadi tahu waktu dan juga tahu arti manfaat waktu. Berbicara soal waktu tentu tidak hanya siang hari saja. Karena disaat matahari berada di belahan bumi lainnya, sinarnya yang terpantul dari bintang dan bulan juga menerangi bumi kita di malam hari. Maka pada malam hari pun juga tetap ada sang waktu.

Dalam kisahnya Bathara Kala mati ditangan Raden Wisanggeni putra Arjuna yang bersenjatakan gada intan. Makna gada adalah ‘modal’, sedangkan intan adalah lambang ‘kekayaan manusia’. Orang yang miskin itu memang lebih sulit, karena untuk membangun sebuah rumah yang hanya kecil saja dia membutuhkan waktu yang sangat lama, karena memang tak berharta. Namun orang yang kaya raya biasanya akan lebih cepat selesai, karena mempunyai modal harta untuk mempersingkat waktunya. Dalam hal ini Bathara Kala hanya mati kalah langkah saja, dan bukan mati yang sesungguhnya. Karena sebelum dunia ini kiamat sang waktu memang tak pernah mati, dan akan tetap terus berjalan kedepan sesuai dengan kodratnya.

Dalam arti yang sesungguhnya, sebetulnya sang waktu tidak pernah berniat membuat manusia celaka, karena sang waktu memang tidak bisa berbuat seperti itu. Bathara Kala digambarkan berwatak bangis dan kejam hanyalah sebagai gambaran ketegasan sang waktu saja. Waktu adalah ibarat roda yang berputar kedepan. Dia tak mau ditarik mundur atau diberhentikan. Dia juga tak mau menunggu orang yang suka bermalas-malasan. Roda sang waktu akan tetap terus berjalan kedepan, menggilas apa saja dan siapa saja yang dilaluinya. Selain itu istilah kata ‘pandai mengatur waktu’ itu hanyalah salah kaprah saja, karena pada dasarnya sang waktu memang tak mau diatur oleh manusia. Manusia lah yang seharusnya menepati janjinya kepada sang waktu untuk mencari nafkah hidup dan beramal baik, serta bertobat dan bersujud kepada Tuhan, agar hidupnya tak akan hanya mati sia-sia tergilas oleh rodanya sang waktu.

 

Pengasih, 10-8-2016

Suyatin

Beriklan Disini Beriklan Disini