Cek Niat dari Pesan 5 Poin Kesatria Jawa

Sumber Gambar : Dokumentasi Penggiat

Kahanan atau situasi pendemi, membuat setiap individu harus kembali mengatur prioritas. Bagi milenial yang berprinsip “wajib produktif walau badai menerpa”, kali ini mau tidak mau harus menjeda. Kalau diklasifikasikan, yang wajib adalah “survival” atau metode bertahan dengan ruang lingkup diri dan keluarga. Di-sunnah-kan (kalau bisa) juga tetap produktif. Kalau bisa.

Mengutip dari Oprah Winfrey, “Pikiran membentukmu”, dalam menyikapi jeda ini, mungkin Semesta sedang memberikan ruang untuk kembali me-review, menimbang-nimbang, menyuuruh menghitung kembali tentang “laku” kita.

“Yakin kamu sama life goalsmu itu, Nak?. Coba deh kamu diam di rumah dan baca lagi catatan-catatan di list yang kamu bangga menyebutnya capaian itu. Apakah itu semua untuk menujuKu, Nak?”. Tanya Semesta.

Lalu diam-diam diriku bertanya kepadaku “Sudahkahkah kamu benar-benar menemukan peranmu, wahai aku?”.

Menurut teori kesatria jawa (kesatria sebagai sifat, tidak berbatas pada jenis kelamin), di umur 20-an ke atas ini adalah masa pencarian 5. Yakni; Kukila, Turangga, Wisma, Wanita dan Curiga (Keris). Kelima hal tersebut dapat diinterpretasikan bermacam-macam.

Kukila berarti burung atau peliharaan ataupun bisa juga bermakna keindahan. Yakni hal yang membuat individu merasa senang, kepuasan batin atau hal yang biasanya digunakan untuk penyembuahan diri / healing dikala stress. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai hobi atau berkesenian. Istilah biologisnya, hal yang merangsang dopamine pada otak untuk tetap seimbang. Istilah psikologisnya, alat untuk manajemen stress.

Turangga atau berarti kuda. Fungsi dari kuda pada kesatria adalah alat transportasi atau kendaraan. Alat yang membuat individu dapat berpindah (hijrah) dari titik A ke titik lainnya. Tanpanya, tak kan jauh langkah seseorang, dan takkan luas penglihatan seseourang itu. Turangga dapat diinterpretasikan banyak hal pada setiap konteksnya. Misalnya, untuk dapat berpindah dari pikiran sempit menuju keluasan, membutuhkan kendaraan bernama “ilmu pengetahuan”. Untuk dapat bermanfaat atas ilmu yang dipunyai, membutuhkan kendaraan bernama “pemahaman dan keahlian”. Untuk berani melakukan sesuatu, aksi, berani gagal sehingga dapat berusaha membuat lebih baik bagi suatu keadaan, membutuhkan kendaraan bernama “mental”. Itulah turangga.

Wisma atau berarti rumah yang dalam hal ini dapat diinterpretasikan suatu buah pikir dari turunan prinsip, prinsip itu sendiri, ataupun hal yang digunakan untuk melindungi diri dan pikiran dari hal dan informasi yang membuat diri semakin chaos. Kesatria yang telah memiliki wisma di pikirannya, biasanya ia tahu batasan dan peran atas dirinya sendiri. Tanpa wisma tak mungkin satria. Wisma bukan sekedar alamat. Dia adalah sebuah rumah pemahaman, titik balik, tempat rindu berasal dan tempat kembali.

Wanita, merupakan lambang kehidupan, kemakmuran dan kesuburan. Jika dimaknai secara netral dan general bukan sekedar istri atau suami, ia bisa diposisikan sebagai Ibu. Ialah sumbu utama Semesta memberikan penghidupan, dan kehidupan berputus juga berasal.

Curiga atau berarti keris. Keris bukanlah senjata, namun bukan juga alat untuk mencari penghidupan layaknya cangkul, pisau dapur dan sebagainya. Orang jawa sering menyebut keris itu “pegangan atau cekelan”. Ia adalah lambang kewaspadaan dan keperwiraan. Tanpanya, keempat sebelumnya akan sirna atau hilang masing-masing haluannya. Curiga bisa diinterpretasikan sebagai “prinsip, pegangan atau kepercayaan.”

COVID19 adalah situasi yang harus dihadapi bersama. Tidak seyogyanya situasi seperti ini untuk saling menyalahkan dan membebani pikiran dengan informasi dan pertanyaan yang sama sekali tidak relevan dengan ranah kita. Tiada kewajiban bagi kita untuk tahu ataupun menjawabnya. Tentang apapun itu disebut konspirasi, perang ekonomi, akhir zaman ataupun hal berat lainnya yang justru membuat pikiran kita semakin jumud dan membawa ke arah ketakutan buta serta membawa banyak ke-mudharat-an daripada manfaatnya. Lebih baik, sikapi dengan menjawab beberapa pertanyaan yang memang pada area dan ranah masing-masing, yang seakan Semesta sedang menyapa lalu bertanya :

  1. “Nak, apakah kukilamu itu baik/positif dan dapat kau gunakan untuk menymebuhkan dirimu ketika sedang stress, terpuruk dengan tidak menjadi lupa atau melupakanKu?”
  2. “Nak, apakah kau yakin turangga / kendaraanmu sudah kau punyai? Jika sudah apakah kendaraan yang Kuberikan padamu itu saat ini kau pergunakan untuk menujuKu?”
  3. “Nak, apakah wisma pemahamanmu sudah tidak membuat dirimu menggelandang, terasing, serta kuat untuk melindungi dirimu dari berbagai misinformasi ataupun disinformasi yang membuatmu tidak tenang ketika malam nanti, ketika panas yang amat di siang hari nanti, ketika dentuman itu datang atau ketika kabut beberapa hari turun nanti?”
  4. “Nak, apakah sudah kau hargai orang-orang yang telah membuat dirimu ada, yang sekarang sedang membersamaimu, yang mendahuluimu dan atau sudah siapkah diri dan jiwamu jika Kuberikan satu pendamping untukmu?”
  5. “Nak, siapakah curiga-mu saat ini? Siapakah itu financial freedom? Siapakah kekayaan dan kekuasaan itu?. Ketika kau mantap memutuskan curiga-mu bukanlah Aku, yakinkah kau bisa mempertahankan keempat pemberianKu sebelumnya, ketika sewaktu-waktu akan Kuambil darimu?”

“Nak, jangan meninggalkan apapun yang bakal menjadi kesulitan bagi orang lain di kemudian hari.”

 

Bayuarga Damar

Yogyakarta, April 2020

Beriklan Disini Beriklan Disini