Diriku Memandang

Sumber Gambar : Instagram
  • Mengapa saya menulis ini?
  • Apa maksud dari tulisan ini?
  • Apa gunanya untuk pembaca?

Baik kawan-kawan, saya akan berangkat dari pertanyaan pertama. Mengapa saya menulis ini?

Awalnya saya membaca suatu uraian di facebook yang berbunyi kurang lebih seperti ini:

Kritik itu merusak hubungan.

Jangan percaya istilah kritik membangun. Anda akan banyak kehilangan teman, pacar, saudara, bahkan bisnis, apabila anda mempunyai kebiasaan mengkritik orang lain. Kritik selalu menyakitkan. Sebagus apapun tata bahasa anda, kritik selalu merusak hubungan. Jangan mempercayai siapapun yang selalu mencela anda baik di depan atau di belakang. Gantilah kritik dengan pujian yang tulus hati.

Sebenarnya belum semua kalimat dari beliau saya tulis lengkap di konten ini. Tapi paling tidak dari situ sudah memberikan pandangan yang mungkin anda semua ada yang setuju, ada yang tidak setuju, ada yang marah, dan berbagai reaksi terjadi setelah anda membacanya.

Jika anda merasa kurang sejalan, atau menjadi bertanya-tanya dengan kalimat “kritik itu merusak”, maka saya akan memberikan sudut pandang lain dari situasi ini. Jika anda termasuk yang setuju “kritik itu merusak” maka konten ini mungkin kurang cocok bagi anda.

Pertama, saya mengira bahwa kalimat kritik itu merusak adalah hasil dari pengalaman tidak menyenangkan dari penulis sehingga beliau menyimpulkan seperti itu. Tapi jangan lupa bahwa ada sudut pandang lain. Dari pengalaman saya, kritik itu memang menyakitkan diawal. Tapi jika saya rasakan dengan menahan semua emosi ketidaknyamanan atas kritikan, sedikit waktu untuk berfikir, bernafas, dan berkaca, maka akan tercipta suasana bahwa kritik memang membangun. Tapi ingat, tidak semuanya. Sakit itu pasti. Tapi yang saya rasakan setelah terbiasa menerima kritik dan berfikir berkaca diri, maka akan ada banyak ilmu yang saya dapatkan dan sangat berguna bagi saya.

Kalau prinsip kritik merusak itu dipakai untuk orang lain, mungkin ada baiknya, karena saya akan selalu berhati-hati utnuk menyampaikan sesuatu pada orang lain yang mungkin akan menyakiti dia. Tapi dari sudut pandang saya bahwa, saya tidak bisa memaksakan orang lain memaknai kalimat saya bermaksud ini ataupun itu. Dia sendirilah yang memaknai kalimat saya berdasarkan seluruh pengalamannya. Oke, anda sudah membaca sudut pandang yang berbeda dari saya.

Kedua, apa maksud tulisan saya ini? Bahwa kebaikan adalah bukan kalimatnya, tapi bagaimana saya memaknai suatu kalimat. Kembali ke akhir paragraf sebelumnya, bahwa saya tidak bisa memaksa orang lain memaknai kalimat saya. Setiap orang punya pengalaman masing-masing. Itu berarti kalimat A bisa dimaknai baik ataupun buruk. Kalimat Z bisa diartikan baik ataupun buruk. Dari sini saya merasakan sendiri dahulu saya memaknai kalimat ataupun kritik menjadi menyakitkan, dan sekarang saya memaknainya sebagai kebaikan. Padahal kalimat yang sama. Hanya berbeda dari saya yang kemarin dan saya yang sekarang. Dari sini terlihat bahwa kalimat sama bisa dimaknai berbeda. Itu berarti kebaikan terbentuk dari dalam diri sendiri memaknai sesuatu dari luar, entah itu kalimat, entah kejadian, entah apapun.

Jadi, berdasarkan sudut pandang saya, bahwa kebaikan dan keburukan bukan dari kejadiannya. Tapi bagaimana saya memaknai, merespon, dan mengingatnya sebagai pengalaman.

Ketiga, apa gunanya kawan-kawan membaca ini? Ya, kembali ke poin pertama, ada yang setuju, ada yang bingung, ada yang menolak. Setidaknya pembaca mempunyai referensi. Akan memilih bahwa kritik merusak, membangun, atau semua tergantung yang memaknai, atau mempunyai gagasan baru yang tercipta asli dari anda sendiri?

Tapi tetap saja, semua perlu kebijaksanaan situasi, empan papan, dan semua yang saya tulis tidak benar 100%, dan tidak harus anda gunakan. Banyak kalimat yang kurang berkenan saya mohon maaf. Mari berbagi pengalaman dan belajar bersama, Sinau bareng.

 

Agus Panca

Beriklan Disini Beriklan Disini