Marah dengan Cerdas

Sumber Gambar : Instagram

What? Mana bisa Marah dengan cerdas?

Lagi lagi saya berangkat dari tiga pertanyaan. Pertama, mengapa saya menulis ini? Kedua apa maksudnya? Ketiga apa gunanya?

Oke, mari membahas poin pertama. Mengapa saya menulis ini? Jawabannya adalah dari pengalaman saya ketika mendengar dan mengetahui banyak sekali kawan-kawan saya yang membela A dan mencela B dengan arah ngawur. Saya merasa ada yang salah ketika sudah sampai mencela secara ngawur, dan akhirnya melahirkan kesimpulan yang tidak tepat pula. Saya ambil beberapa contoh :

  • Ritual qurban adalah ritual pembantaian yang harus dihilangkan.
  • Rokok itu haram karena membahayakan.
  • Pacaran itu haram dan harus diganti dengan ta’aruf.

Saya merasa ada yang tidak beres ketika mengetahui hal-hal tersebut. Awalnya entah mengapa saya belum menemukan jawabannya. Tapi rasa tidak beres dalam diri sudah muncul. Rasanya kalimat-kalimat itu kurang tepat.

Sambil membahas 3 contoh kalimat di atas, mari masuk ke poin kedua. Apa maksud dari judul? Marah dengan cerdas maksudnya ketika seseorang menolak sesuatu, hendaklah dengan alasan dan cara yang tepat, sehingga menghasilkan kesimpulan yang tepat pula. Tidak menolak dengan penuh emosi, hendaklah seseorang menolak dengan perhitungan, alasan, dan cara yang masuk akal. Kalaupun tidak masuk akal, simpanlah untuk diri sendiri dan tidak disebarkan ke orang banyak. Sehingga saya membayangkan istilah “Marah dengan Cerdas” maksudnya adalah ketika harus meluapkan marah kepada orang lain, seseorang juga harus marah dengan cerdas. Kemudian bagaimana contohnya? Mari saya beri contoh dari 3 kutipan kalimat sebelumnya.

  • Ritual qurban adalah ritual pembantaian yang harus dihilangkan.

Jika menolak ritual qurban karena alasan pembantaian, mari kita lihat lebih luas lagi. Berapa banyak pemotongan ayam dalam kurun waktu sehari? Berapa banyak penangkapan ikan? Ikan teri? Udang? Pembasmian serangga? Berapa banyak? Kiranya angka itu akan melampaui angka penyembelihan hewan qurban. Kemudian muncul pertanyaan lagi, “tapi nyatanya banyak daging qurban yang membuat orang merasa makan terlalu berlebihan, banyak daging terbuang, banyak yang memaksakan diri untuk makan padahal sudah tidak sanggup. Oke, kalau dilihat lagi, permasalahannya terletak pada sikap berlebihan. Sikap berlebihan itu di situasi apapun memang kurang baik. Dan ternyata yang salah bukan perayaan ritualnya, tetapi sikap berlebihannya. Lalu mengapa harus menghilangkan perayaan? Mengapa tidak mengendalikan sikap berlebihannya?

  • Rokok itu haram karena membahayakan.

Saya mencari alasan mengapa rokok bisa membahayakan. Ternyata karena bahan dan asapnya. Oke, mari kita lihat kandungan yang katanya berbahaya, semisal nikotin. Ada beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa di sayuran dan buah juga mengandung nikotin. Oke, beralih ke asap yang berbahaya. Coba bandingkan asap kendaraan, asap industri, asap obat nyamuk. Saya rasa asap rokok akan sejajar dengan semua itu. Kembali ke bahan dan asap, jika berlebihan maka akan membahayakan. Lagi-lagi saya menemukan masyarakat menilai kurang tepat. Seharusnya sikap berlebihanlah yang semestinya lebih diperhatikan.

  • Pacaran itu haram dan harus diganti dengan ta’aruf.

Oke, ketika saya menelusuri konsep ta’aruf, ternyata konsepnya tidak jauh berbeda dengan konsep berpacaran (yang saya pahami). Kemudian muncul pertanyaan “tapi pacaran kan mendekatkan kemaksiatan.” Saya rasa tidak. Itu hanya salah satu stigma pacaran yang diketahui umum. Ada laku pacaran yang sama sekali tidak mendekatkan pada maksiat dan sama persis dengan ta’aruf. Hanya saja di sini kenyataannya adalah pacaran itu bahasa Indonesia dan ta’aruf adalah bahasa Arab. Memang masyarakat umum menganggap sesuatu yang berbahasa arab itu lebih ‘agamis’, sedangkan anggapan pacaran yang diketahui umum adalah pendekatan yang kurang baik. Jadi di sini saya melihat, ada konsep kemaksiatan.

Dalam konsep maksiat, kondisi apapun itu memang tidak boleh. Entah pacaran ataupun tidak, yang namanya maksiat itu tidak baik. Menurut saya (pendapat yang tidak umum) pacaran adalah ungkapan keinginan untuk menikah, dan dalam pernikahan tidak akan dilakukan seketika, harus ada kesempatan untuk mengenal, harus ada keseriusan. Bagi saya, cara untuk mengenal adalah dengan silaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara. Interaksi keluarga sangat diperlukan untuk mengenal lebih banyak tentang seseorang. Bukan seperti yang umum ketahui, jalan-jalan berdua, ajak kesana, ajak kesini, tidak jelas arahnya, hanya berhura-hura. Dan budaya silaturahmi dengan keluarga saya rasa dari dahulu kala sudah ada dan efektif. Mungkin istilah umum adalah ‘apel’ yang menurut saya sudah semakin hilang. Kini orang banyak yang hanya menjemput di rumah kemudian diajak ke tempat lain. Keluarga tak tahu apa yang mereka lakukan. Nah dari sini kawan-kawan bisa melihat sudut pandang lain. Bahwa menurut saya, konsep lama, yaitu silaturahmi keluarga sangat efektif dan tentunya tidak mendekatkan pada kemaksiatan dan satu lagi yang paling penting, itu adalah konsep yang sama dengan konsep ta’aruf. Jadi ternyata yang salah bukan pacarannya, tapi bagaimana cara menjalaninya, apakah maksiat atau tidak. Karena yang dilarang adalah maksiat. Jangan sampai terjebak pada konsep umum yang sudah terbawa arus negatif. Apalagi hanya terpengaruh efek bahasa. Ibarat keset atau lap kaki yang bertuliskan aksara arab langsung dihujat. Katanya “lafadz quran kok dibuat injek-injek”. Padahal dalam bahasa indonesia itu artinya ‘selamat datang’ dalam bahasa inggris ‘welcome’. Lebih parah lagi kemarahan itu kemudian disebarkan kepada orang banyak, menyebarkan kemarahan yang tak masuk akal.

Nah, setelah panjang lebar saya menjelaskan beberapa contoh, mari masuk ke poin ketiga. Apa gunanya saya menulis ini? Tentunya kawan-kawan akan mempunyai referensi sudut pandang dari saya. Agar tidak mudah marah dengan penuh emosi, dan akhirnya kesimpulan pun menjadi tidak presisi. Marahlah atau menolaklah dengan cara berpikir yang jelas dan masuk akal. Jika belum bisa menemukan alasannya, lebih baik jangan menyebarkan pada orang banyak, simpanlah sendiri sambil belajar sampai kiranya sudah yakin akan konsep yang masuk akal. Tidak hanya ikut sana ikut sini, share sana share sini.

Tentunya semua yang saya tulis hanya bahan referensi anda. Tidak harus anda gunakan. Boleh anda terima, boleh anda tolak, boleh anda protes. Banyak salah dari saya, mohon maaf. Mari berbagi ilmu, mari berbagi pengalaman, belajar bersama. Sinau bareng.

 

Agus Panca

Beriklan Disini Beriklan Disini