No Share = No Care?

Sumber Gambar : Google Image

Halo kawan, kali ini tema yang akan saya angkat adalah “no share = no care?. Maksud dalam judul ‘no share’ ini adalah share informasi social media. Banyak orang-orang yang menganggap saya tidak peduli pada informasi yang sedang trending ataupun viral. Mengapa? Karena saya termasuk orang yang sangat lambat dalam penyebaran informasi, padahal orang lain sangat cepat dalam menanggapi dan membagikan. Apa gadget saya tidak mumpuni untuk ikut serta dalam menanggapi dan menyebarkan informasi dari sosmed? Saya rasa tidak. Jadi, saya mulai dari poin-poin alasan :

  1. Saya bukan tim cepat tanggap, SAR, wartawan, ataupun yang berkewajiban langsung di dunia penyebaran informasi. Jika saya tidak mengetahui seluk beluk informasinya, maka kemungkinan besar, saya tidak ikut menyebarluaskan informasi. Lalu apa itu berarti, segala sesuatu yang terjadi di depan saya, saya harus tahu seluk beluknya? Semisal, jika kecelakaan terjadi di depan mata, saya harus mempelajari bagaimana kejadiannya, perlukah ditolong, mana yang harus ditolong? Ya, saya pernah mendapatkan pertanyaan tersebut. Saya jawab, ini adalah tindakan. Maka saya akan bertindak. Sedangkan yang menjadi pembahasan dalam tema ini adalah penyebaran informasi. Hal itu adalah sesuatu yang tidak terjadi di depan saya, dan tidak berpengaruh pada saya. Tentunya tidak bisa disamakan dengan kasus jika terjadi kecelakaan di depan mata. Lalu bagaimana jika informasinya sangat penting dan sangat berpengaruh dalam hidup saya? Maka jawabannya ada di poin 2.
  2. Keadaan zaman sekarang yang terjadi adalah banyaknya informasi yang tidak tepat, apalagi yang menyesatkan, lebih lagi sudah sangat sulit untuk melacak darimana sumber informasi tersebut. Karena dalam keadaan sekarang, dunia sosmed, semua orang sangat mudah membuat, merubah, dan menyebarkan informasi. Akan sangat berbahaya jika saya menyebarkan informasi yang salah dan tidak tahu sumbernya. Saya tidak ingin itu terjadi (lagi). Sekarang ingat-ingat kejadian silam. Soal penganiayaan siswi, yang kemudian tersebar dokumen ‘petisi’. Masih ingat? Yang kemudian sebagian besar para penyebar berita dan yang menanggapi petisi merasa menyesal. Karena pada akhirnya juga tidak jelas. Mana yang benar, mana yang salah, apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ingat-ingat lagi ketika terjadi hal yang menghebohkan, misal ada anak yang hilang di Kemudian orang yang tidak diketahui asalnya mengunggah gambar orang kecelakaan, kemudian ditulisnya bahwa si anak ini dimakan hewan buas. Atau ada yang mengunggah video, bahwa dia berada di dunia lain, dan memanggil-manggil. Padahal video itu adalah kejadian yang lain. Atau mengunggah gambar para petinggi negara, kemudian ditambahnya tulisan-tulisan, yang seolah beliau yang mengatakan untuk melakukan ini itu. Ingat-ingatlah banyak kejadian yang viral, lalu banyaknya informasi yang sudah dirubah, diotak-atik, dilebih-lebihkan, bahkan dibalikkan faktanya, sehingga tersebarlah berita yang tidak akurat. Sekarang orang menyebutnya hoax. Untuk apa mereka melakukan itu? Tentu banyak motifnya. Ada yang sekedar ingin mempunyai banyak pengikut, ada yang ingin mengarahkan masyarakat agar mempercayai ke arah tertentu, dan masih banyak lagi.
  3. Nafsu diri memanglah besar. Termasuk nafsu untuk ikut berpartisipasi menyebarkan informasi. Agar dianggap bahwa saya orang yang up to date. Agar dianggap saya orang yang peduli. Agar dianggap saya orang baik, suka menolong (lewat sosmed). Tapi terimalah kawan, yang terjadi di masa ini adalah sangat banyak informasi yang tidak akurat. Saya memberikan sudut pandang, jika berita yang ada, saya tidak bisa mengetahui dari mana sumbernya, maka saya tidak ikut menyebarkan. Jika berita yang ada, saya tidak ahli dalam hal itu, maka saya juga tidak ikut menyebarkan. Terlebih lagi, informasi itu samasekali tidak ada pengaruhnya pada diri saya.
  4. Akhirnya saya dianggap lambat dalam penyebaran informasi. Jika informasi itu berpengaruh pada diri saya, maka saya akan mempelajari, dan mencari sumber informasinya. Tentunya perlu waktu untuk itu. Dan mungkin pada beberapa hal, saya tidak ikut share dan kemudian dianggap saya tidak care. Tapi dari situ juga saya sering ‘puas hati’ ketika informasi yang mereka share itu hoax. Ya, itu sering terjadi.

Jadi bagaimana menurutmu kawan-kawan? Apakah no share itu berarti no care? Mari berikan tanggapannya, kita belajar bersama.

Tentunya banyak yang tidak berkenan saya mohon maaf, mari belajar bersama, Sinau Bareng

 

Agus Panca

Beriklan Disini Beriklan Disini