Pengemis Berwajah Arab

Sumber Gambar : kaskus.co.id

            Sore itu langit agak mendung. Nampak gumpalan awan hitam menggantung. Udara cukup dingin menusuk tulang. Bunga-bunga di halaman masih nampak segar sehabis di siram tadi siang. Embun air bagaikan butiran-butiran kristal masih menetes dari sela-sela ruas daun.

            Aku duduk di kursi teras rumah yang sudah reyot di makan usia. Ku pandangi anak semata wayangku yang sudah tampak bersih sehabis mandi. Dengan pakaian bersih dia kelihatan tampan dan lucu. Dia berumur tiga tahun. Dia berlari kecil bermain dengan ibunya, Narti. Wanita kurus yang aku cintai. Wanita yang telah lima tahun mendampingi hidupku. Dan masih setia walaupun hidup kami tidak bisa di bilang kecukupan.

            Rasanya kehidupan kami cukup bahagia, walaupun perkawinan kami tidak disetujui oleh orang tuanya. Aku dipandang oleh orang tuanya sebagai lelaki yang tidak akan bisa membahagiakan hidupnya. Ya, aku memang hanya seorang karyawan dari perusahaan kecil. Penghasilanku hanya pas-pasan untuk makan sehari-hari dan menyewa rumah kontrakan kecil di dalam kampung. Selain itu, keyakinan orang tua ku yang berlainan dengan mereka semakin membuat hubungan cinta kami tidak direstui. Memang keluarga istriku adalah keluarga orang yang cukup berada. Orang tuanya merupakan tokoh yang terpandang di kampungnya. Ayahnya seorang pengusaha yang cukup berhasil dan telah menyandang gelar haji. Sedangkan aku berasal dari keluarga pedagang yang sederhana.  

            Ya, keluarga kami memang jauh berbeda. Dan aku dipandang tidak layak mempersunting dirinya. Dulu, sebenarnya dia telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak temannya yang sama-sama bergelar haji. Tapi dia berani menolak perjodohan itu dan memilih diriku sebagai suaminya. Akibatnya dia diasingkan oleh keluarga besarnya. Kenyataan pahit yang harus dia terima karena pilihannya.

            Lamunanku  buyar ketika tiba-tiba datang seorang pengemis didepan ku. Pakaian pengemis itu agak kotor dan kumal. Umurnya mungkin belum begitu lanjut walau rambutnya banyak dihiasi warna putih keperakan. Hidungnya mancung. Wajahnya cukup tampan. Mirip orang Arab. Cuman agak kotor. Mungkin jarang dibersihkan. Di depanku dia berkata , “Pak, minta fulusnya”, begitu pintanya dengan logat bahasa Arab yang cukup kental. Aku tatap sebentar wajahnya. Dia tersenyum kepadaku. Senyum yang ramah dan menyejukkan. Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang receh ditempat dimana istriku selalu meletakkan uang receh sisa belanja . Sengaja disediakan bila ada pengemis yang datang ke rumah. Aku ambil uang itu secukupnya dan langsung kuserahkan pada pengemis itu. Dia menerimanya dengan senyum masih dikulumnya. Senyum itu kelihatan begitu tulus. Tiba-tiba dia lalu mencium tangan ku. Aku kaget dan heran. Belum pernah aku diperlakukan seperti itu oleh orang lain selain oleh istri dan anakku. Dan dia menempelkan uang pemberianku ke pipi kanan lalu kekiri. Lalu dia segera pergi sambil mengucapkan , “Terima kasih, ya pak”.

            Belum jauh dia melangkah, tiba-tiba dia berhenti sebentar. Dia menoleh ke arah anakku yang sedang berdiri tidak jauh dari ku. Dia menghampiri anakku. Dengan lembut dia mengusap kepala anakku. Lalu meniupkan udara dari mulutnya dengan lembut di ubun-ubun kepala anakku. Aku biarkan kejadian itu berlaku. Anakku diam saja. Bahkan dia nampak memejamkan kedua matanya seakan menikmati tiupan pengemis tua itu. Aku heran dengan kejadian itu. Biasanya anakku tidak mau didekati oleh orang asing apalagi seorang pengemis. Dia akan berlari menjauh atau menangis sejadi-jadinya bila ada orang asing yang mendekatinya dan ingin menyentuhnya. Tapi sore itu tidak. Dia diam dan menurut saja. Setelah itu, pengemis itu pergi. Dia berjalan dengan agak sedikit membungkuk. Sebentar kemudian tubuhnya sudah tidak kelihatan lagi, berbelok melintasi rumah-rumah tetangga.

            Pada hari berikutnya, pada waktu yang sama pengemis itu datang kembali. Kejadian seperti kemarin terulang kembali. Dan anakku juga mengalami perlakuan yang sama seperti kemarin sore. Dan dia lagi-lagi tidak berlari atau menangis tatkala pengemis itu meniup ubun-ubun kepalanya.

            Kejadian itu berulang terus sampai beberapa hari bahkan genap satu minggu. Seakan itu juga jadi kegiatan rutinku. Bahkan aku selalu menyempatkan menyediakan uang receh ketika persediaan uang receh dari istriku habis. Dan anakku pada jam-jam yang sama selalu berada di dekatku menunggu kedatangan pengemis itu. Seakan menunggu kedamaian atas kesejukan tiupan pengemis tua itu diatas ubun-ubunnya.

            Pada suatu sore, pada waktu yang sama aku duduk di depan rumah. Anakku duduk diatas pangkuanku. Kami menunggu pengemis itu datang. Lama sudah kami menunggu, tapi pengemis itu tidak datang-datang. Hari pun semakin gelap. Azan Magrib telah berkumandang dari pengeras suara masjid kampungku. Dan pengemis tua itu tidak datang jua. Ada rasa kehilangan menggelayut dalam hatiku. Akhirnya kami pun masuk ke rumah untuk segera mengambil peralatan ibadah dan bergegas ke masjid untuk bersembahyang.

            Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor. Dihalte, sambil menunggu angkutan umum aku membeli koran lokal yang dijajakan oleh anak kecil. Tidak lama kemudian kendaraan angkutku tiba. Aku bergegas naik.

            Di tengah perjalanan , kendaraan tiba-tiba behenti. Ternyata didepan ada rombongan pelayat yang sedang mengantar jenazah. Rombongan pelayat itu panjang sekali. Sebagian besar pelayat mengenakan sarung dan berpakaian putih-putih dengan peci berwarna putih juga. Rombongan pelayat itu melintas dengan keranda jenazah di depan. Didepan keranda itu terpampang foto sang jenazah. Foto berbingkai cukup besar. Orang dalam foto itu memakai putih di kepalanya. Wajah sang jenazah nampak memancarkan kharisma yang kuat. Wajah itu seperti aku kenal dan tidak asing bagiku. Astaga, itu khan wajah pengemis itu…….

 

Ditulis oleh: Tri Apriyadi

 

 

Beriklan Disini Beriklan Disini