Reportase Manunggal Syafaat 28 Februari 2020

Sumber Gambar : Redaksi MS

Tema: Debat kusir
Pada dasarnya, debat merupakan salah satu jalan untuk menyelesaikan masalah. Dalam Islam juga diterangkan bahwa debat adalah solusi terkhir ketika solusi yang lain tidak bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah. Dan jika debat tidak bisa menjadi jalan penyelesaian, maka biasanya yang terjadi adalah perang. Dalam Qur’an dijelaskan dalam Q.S. An-Nahl ayat 125:
ٱدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Terjemah: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Peperangan tidak disebutkan di ayat ini. Karena perang adalah poin terakhir jika memang tidak ada jalan keluar dan jika debat tak menjadikan penyelesaian suatu perkara. Jadi, debat ternyata diperbolehkan dalam Islam. Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah debat kusir? Yaitu debat yang cenderung asal-asalan? Jika dilihat dari pengartian asal-asalan, maka debat kusir adalah hal yang tidak baik. Tapi dalam sejarah Islam, ada kalanya digunakan dan memberi efek positif. Yaitu ketika zaman perjanjian hudaibiyah, yang mana hampir seluruh isi perjanjian adalah menguntungkan kaum kafir pada saat itu. Sampai ada suatu cuplikan cerita, yaitu ketika Umar bertanya pada Nabi Muhammad S.A.W. “sampeyan ki jane isih nabi po ra to?” begit kira kira dalam bahasa Jawa. Kemudian Nabi Muhammad S.A.W. merenungkan dan menanggapi dengan membuat satu permintaan pada perjanjian tersebut. Yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia “saya minta, segala diskusi tenang Islam, jangan dibatasi” dalam kalimat cuplikan itu termasuk para kaum kafir yang membicarakan tentang Islam, tidak boleh dibatasi atau dibebaskan sebebas-bebasnya. Dalam perkara ini, bisa disebut DEBAT KUSIR adalah termasuk. Kemudian setelah itu banyak diskusi tentang Islam di berbagai tempat, termasuk di kalangan kaum kafir yang banyak membahas tentang Islam, walaupun secara asal-asalan. Tapi kemudian apa yang terjadi? Melalui keputusan Beliau yang mungkin bisa dibilang tidak nalar tersebut, ternyata kenyataan adalah, banyak orang kemudian masuk Islam tanpa ajakan sama sekali. Jadi ternyata debat kusir pada situasi tertentu dierbolehkan. Mengapa situasi itu bisa disebut debat kusir? Saat itu yang terjadi adalah pembahasan tentang Islam. Sedangkan yang paling mengerti tentang Islam pada saat itu adalah Nabi dan para sahabat, yang berada di Madinah. Sedangkan pembahasan terjadi di Makkah yang kala itu di dominasi kaum kafir. Maka bisa dikatakan pembahasan yang terjadi kala itu salah satunya adalah debat kusir.
Lalu apa debat kusir yang terjadi saat ini masihkan dalam ranah ‘diperbolehkan’? Karena debat yang terjadi saat ini banyak yang hanya melalui sosial media. Tidak bertemu tatap muka, dan apalagi kini niat berdebat bukan untuk belajar bersama, tetapi untuk membenarkan argumen sendiri agar terlihat lebih pintar, lebih hebat dari orang lain. kiranya debat kusir yang seperti ini lebih baik dihindari, karena sisi manfaat yang sangat kecil, dan kerugian yang lebih banyak. Tapi kemudian timbul pertanyaan lagi. Bagaimana jika niat debat untuk mengunggulkan diri terjadi tanpa disadari? Kalau di ingat-ingat, kiranya memang sering terjadi, ketika awalnya ingin mengingatkan sesuatu, kemudian terjadi debat, apalagi debat kusir, kemudian tanpa disadari, orang akan terbawa nafsu untuk membenarkan diri dan malu untuk mengakui apabila memang suatu hal dirinya salah. Maka dalam perkara ini, seseorang harus sering ‘cek niat’ (tema #21) 😁. Jadi, melihat sisi manfaat, dan melihat niat diri sendiri sangat diperlukan dalam perdebatan. Karena terkadang memang debat adalah jalan yang harus ditempuh dalam suatu perkara. Bahkan ada suatu quotes mengatakan bahwa “debat sekali lebih utama dari pada sebulan belajar”. Tapi mengapa bisa begitu? Karena dalam perdebatan yang baik, ilmunya akan sangat membekas di ingatan, apalagi jika menghasilkan kesimpulan yang tepat pula.
Dalam referensi ilmu baru (modern) ada yang disebut manajement forum dan manajement konflik. Manajement forum adalah metode menyelesaikan suatu perkara dengan menggunkan voting, musyawarah mufakat, debat, dll. Sedangkan manajement konflik adalah tindakan yang diambil dalam menyelesaikan suatu perkara, jika debat tidak juga memberikan solusi, salah satu metode dalam menyelesaikan perkara adalah adanya pihak ketiga, yang dalam hal ini adalah orang yang dihormati kedua belah pihak. Sedangkan dalam dunia maya, semua orang mempunyai tataran yang sama, dan jarang sekali ada suatu akun dalam perdebatan dunia maya yang dihormati semua anggota. Hal itu sangat jarang terjadi. Maka dalam perdebatan dunia maya, apalagi debat kusir, dianjurkan untuk dihindari.
Ketika debat sudah terjadi, lalu apa batasannya? Sesuai pertanyaan dalam muqaddimah. Dalam debat juga ada batasannya, apalagi debat kusir. Salah satunya adalah tidak merusak. Entah itu merusak benda, ataupun merusak hubungan. Batasan lain adalah menggunakan perasaan. Ketika dalam perdebatan sudah timbul perasaan yang tidak nyaman, lebih baik berhenti sejenak, merenung, berfikir dan berkaca diri. Dan sekiranya memang merasa harus keluar dari perdebatan maka keluarlah dengan syarat, tidak menimbulkan permasalahan baru. Karena dalam debat, apalagi debat kusir, pastinya akan ada banyak hujatan, caci maki, yang akan diterima dan terkadang sangat menyakitkan. Maka jika akan masuk ke dalam perdebatan sebisa mungkin bisa membaca keadaan sejak awal, apakah debat itu debat cerdas, atau debat kusir. Dan jika sudah diputuskan untuk masuk dalam debat harus mampu menerima segala konsekuensinya. Bahkan dalam cerita Nabi Musa diceritakan bahwa Beliau memohon pada Tuhan agar kaum yang mencaci maki dan selalu ngeyel, agar bisa menuruti Nabi Musa. Kemudian Tuhan menjawab “jangankan kamu Musa, aku saja Tuhan masih dihujat oleh manusia”. Maka selalu batasilah diri sendiri dalam perdebatan.
Jadi dalam dua poin pertnyaan di muqaddimah yaitu:
Apakah debat kusir diperlukan? Jawabannya dalam situasi tertentu memang diperlukan
Apa batasannya? Batasannya adalah tidak merusak

Beriklan Disini Beriklan Disini