Reportase Manunggal Syafaat 31 Januari 2020

Sumber Gambar : Redaksi MS

Muqaddimah

Maha Dalang adalah Allah. Tetapi apakah kehidupan ini seperti pakeliran? Apakah manusia seperti wayang kulit? Benarkah Allah sebagai dalang adalah Yang Maha Berkehendak? Sedangkan manusia juga punya kehendak. Sepertinya kehidupan tidak sesederhana dunia pakeliran. Wayang kenyataan bisa saja bergerak tanpa dimainkan dalang. Pakem cerita bisa digubah sekehendak kepala. Bahkan para wayang bisa saja mengkudeta si dalang.
Tetapi apakah manusia juga benar-benar berkehendak? Mengapa masih terjadi sesuatu yang tidak sesuai rencana? Ataukah manusia sepenuhnya tunduk pada kehendak Tuhan, sehingga ketika ia membunuh manusia lain bisa berlindung dibalik alasan ‘semua sudah ditakdirkan'?
Bagaimana dengan orang-orang yang seratus persen pasrah kepada kehidupan tanpa meyakini kehadiran Tuhan? Bahwa mereka meyakini yang datang dan pergi hanyalah kewajaran biasa. Bagaimana mengkaitkan nasib dengan Tuhan? Seperti apa eksistensi Allah sebagai Maha Dalang? Lalu, bagaimana status manusia dalam konstelasi tersebut?

 

Reportase Manunggal Syafaat 31 Januari 2020

Tema: “Maha Dalang”


Bacaan surat Yaasin menjadi awalan rutinan kali ini, dilanjutkan dengan lantunan lagu Indonesia Raya dan Sholawat Nariyah.
Tema “Maha Dalang” adalah tema yang berat untuk dibahas. Dari muqoddimah terurai pertanyaan-pertanyaan tentang peran dalang adalah sebagai penggerak para wayang. Jika direfleksikan ke kehidupan manusia, apakah manusia dan seluruh alam semesta ini di pergerakkan oleh Tuhan? Lalu apakah manusia punya kehendak?
Jika ditelusuri, jawabannya Tuhan adalah penggerak seluruh alam dan jagat raya ini, sedangkan manusia diberikan kehendak untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Tetapi manusia masih terikat oleh ketentuan Tuhan yaitu hukum alam, sebab akibat, yang mana semua harus mengalami apa yang sudah di tentukan oleh Tuhan. Jadi, kehendak manusia batasannya adalah memilih jalan A, B, C, sedangkan akibat nya sudah ditentukan oleh Tuhan dan manusia pasti akan mengalami akibat atas pemilihan tindakan nya sendiri.
Manusia memang punya kehendak untuk memilih tindakan. Tapi jika ditarik lebih dalam lagi, manusia bisa memilih tindakan itu dihasilkan oleh pengalaman yang selama ini didapat dari luar dirinya. Misal pengalaman pendidikan orang tua, sekolah, teman, dan lain-lain. Pengalaman dihasilkan dari kejadian, dan lingkungan. Lingkungan dihasilkan dari ketentuan dimana dan kapan manusia lahir. Kelahiran manusia adalah ketentuan Tuhan. Berarti pada hakekatnya manusia memang sama sekali tidak punya kehendak atas diri. Manusia hanya ‘merasa’ punya kehendak untuk memilih tidakan. Pada akhirnya adalah tanda tanya yang tidak ada habisnya jika terus ditelusuri lebih dalam.
Ketentuan Tuhan yang sudah dipelajari manusia sering kali disebut sebagai ilmu, rumus, realistis atau sering juga disebut logika. Yang dijadikan alat ukur untuk menentukan suatu hal. Semisal alasan dari kejadian, memperkirakan kejadian yang akan datang, dan yang lain. Tapi seringkali manusia lupa bahwa sesuatu yang terjadi di alam semesta ini belum dirumuskan semuanya. Manusia cenderung hanya 'menuhankan' ilmu yang sudah dirumuskan dan lupa untuk mengukur apa yang belum dirumuskan. Manusia lupa untuk beriman pada tuhan. Manusia hanya mengimani hal yang sudah diketahui, dan lupa mengimani apa yang belum bisa diketahui dan dipelajari. Sehingga terjadi banyak sekali orang yang mencaci maki pendapat orang lain, mengolok-olok suatu kitab, kepercayaan, dan banyak hal karena tidak ada rumusnya atau tidak realistis. Padahal sesuatu yang tidak realistis sangat mungkin karena belum ditemukan sebab akibatnya, dan di masa depan sangat mungkin berubah menjadi hal realistis. Seringkali manusia lupa untuk menuhankan Tuhan. Lupa untuk melibatkan Tuhan dalam memperkirakan kejadian. Lupa untuk melibatkan Tuhan di seluruh aktivitas.
Kesadaran akan hal keterbatasan manusia, menjadikan kita lebih berlapang dada dalam menyikapi kejadian. Membuat kita sadar bahwa manusia hanyalah wayang yang seolah punya kehendak, namun semua kehendak wayang hanya akan terjadi jika sang Maha Dalang menghendaki pula.

Workshop mini coffeeshop:
Narasumber : Rio Aviano (Masadepan coffee)
Mengapa mini coffeeshop? Jawabannya adalah karena fenomena saat ini yang dirasakan di sekitar Kulonprogo adalah mulai bertebarannya coffeeshop. Booming dan tren anak muda yang menggandrungi kopi, atau mungkin hanya sekedar nongkrong, mulai terlihat.
Apa bedanya dengan kopi sachet bubuk yang dijual di warung-warung yang harganya mungkin 2ribu - 3ribu rupiah sedangkan di coffeeshop bisa sampai belasan ribu?
Tentu sangat berbeda, kopi sachet bubuk kita tidak tahu persis komposisi yang ada didalam nya. Dan lagi kita tidak tahu persis sudah berapa lama umurnya. Sedangkan kopi di mini coffeeshop kita bisa melihat secara langsung pembuatannya, bahan dan alat apa saja yang digunakan, tanggal kadaluwarsa dari kopi, dan tentunya lebih fresh. Dan satu lagi alasan yang mungkin saja menjadi alasan terbesar booming mini coffeeshop ini, yaitu sajian tempat nongkrong, atau sekedar gengsi.
Apa saja sajian kopi yang sedang tren sekarang?
- kopi tubruk, sajian kopi seduh murni tanpa tambahan
- espresso, kopi yang diberi tekanan untuk mendapatkan intisari dari kopi. Itulah mengapa sajian espresso menggunakan gelas kecil, dan tentu banyak manfaat nya
- latte, perpaduan espresso dan susu. Sajian paling populer dari latte adalah latte art atau foam susu sebagai media untuk menggambar di secangkir kopi
Dan masih banyak sajian kopi yang lain.
Apakah bisnis mini coffeeshop berpotensi baik dari segi ekonomi? Melihat dari konsumen, strategi, dan trending saat ini, bisnis mini coffeeshop termasuk bisnis yang punya potensi ekonomi yang bagus. Dari kondisi masyarakat yang sedang berkembang, bisnis yang cenderung ‘kekinian’ tentunya banyak diminati kaum muda. Dari segi sosial, dengan lebih banyak orang berkegiatan positif, semisal ngopi di coffeeshop, caffe, dan lain lain, tentunya secara tidak langsung mengurangi tingkat kegiatan negatif. ‘Kekinian’ menjadi salah satu faktor pergerakan kaum muda yang sangat berpengaruh pada masyarakat.
Salah satu fenomena konsumen yang sekarang ini, yang bisa di bilang ‘aneh’ menghasilkan strategi pemasaran yang unik juga. Terkadang ada produk-produk yang dijual murah malah tidak laku, sedangkan ketika dinaikkan harganya dengan kualitas yang sama, malah laku. Itu adalah fenomena yang ‘aneh’ tetapi nyata terjadi di harga mini coffeeshop dan batik, dan mungkin ada beberapa produk lain lagi. Harga kopi yang terlalu murah, yang terjadi malah tidak diminati masyarakat. Dan ketika dinaikkan harga ke harga umum, justru meningkatkan minat masyarakat untuk membeli. Itu terjadi juga dalam penjualan batik. Ketika batik dijual murah malah tidak laku. Tapi ketika dinaikkan harganya malah laku. Maka strategi lebih murah lebih laris tidak berlaku dalam fenomena ini. Mengamati fenomena masyarakat ternyata sangat penting untuk menghasilkan strategi apa yang akan sesuai dalam menjalani suatu bisnis. Fenomena yang terus berkembang, menjadikan pelaku bisnis harus terus berinovasi.
Tentunya pengalaman bisnis mini coffeeshop bisa dijadikan pembelajaran untuk dimaknai dan diterapkan dalam bisnis yang sama, maupun berbeda bidang. Sebagi cermin kita sendiri, sejauh mana kita sudah menjalani suatu bisnis, sejauh mana kita bisa mengamati fenomena masyarakat, dan sejauh mana kita bisa merespon keadaan.

 

Margosari, 31 Januari 2020

Muqaddimah: Bima Yusuf

Beriklan Disini Beriklan Disini