Reportase Manunggal Syafaat Desember 2020 - RongEwuRongPuluh

Sumber Gambar : Redaksi Manunggal Syafaat

Malam itu tampak beberapa penggiat Manunggal Syafaat sedang mempersiapkan beberapa alat musik. Mereka terlihat memegang alat masing-masing dan melakukan tuning untuk menyelaraskan nada antara satu gitar dengan gitar lainnya. Pada tanggal 25 Desember 2020 di Pendapa Aji Kawedhar, hendak dilangsungkan forum diskusi Manunggal Syafaat Edisi Desember 2020. Tepatnya di Dusun Kamal, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo, manunggalan malam itu dilaksanakan selepas hujan sore itu mulai mereda.

Diskusi Manunggal Syafaat kali ini dibuka dengan satu nomor yang dibawakan oleh Mas Bayu dengan diiringi oleh jamaah yang standby atas alat musiknya masing-masing. Lagu dari Chrisye yang berjudul Kisah Cintaku menjadi pembuka kehangatan manunggalan malam itu. Selama lagu diperdendangkan, para jamaah lainnya turut hadir satu persatu. Hingga ketika lagu selesai dinyanikan dan jamaah sudah banyak berdatangan, Mas Bima membacakan muqaddimah “RongEwu RongPuluh” untuk memantik kelangsungan diskusi.

Dalam muqaddimah yang dibacakan oleh Mas Bima, disampaikan bahwa tahun 2020 dianggap sebagai tahun yang berat bagi sebagaian orang. Berawal dari pandemi Covid-19 berikut turunan masalahnya serta masalah-masalah lain yang turut memperparah keadaan menjadikan tahun 2020 sebagai tahun yang ingin segera diakhiri. Perubahan terjadi dimana-mana sehingga menjadikan tahun 2020 sebagai tahun yang ”berbeda” dari tahun-tahun sebelumnya, ora kaya adate.

Setelah muqaddimah dibacakan, respon unik terlontar dari Mas Panca. Mas Panca mempunyai cara pandangan lain atas tahun 2020. Ia menanggapi tema edisi malam itu dengan praduga: jangan-jangan hidup yang sebenarnya itu justru yang seperti tahun 2020 ini, jangan-jangan tahun sebelumnya itu terjadi hanya karena kemurahan hati Sang Pencipta. Pengandaian yang disampaikan Mas Panca cukup membuat jamaah merenung sebentar untuk mencari kemungkinan-kemungkinan tentang apa yang sejatinya terjadi  pada tahun 2020.

“Bagaimana jika default hidup itu sesungguhnya memang sulit seperti tahun 2020, sementara tahun-tahun sebelumnya hanya bonus yang diberikan oleh Tuhan?” tanya Mas Panca.

Mas Hantoro kemudian memberikan pandangannya atas kondisi di tahun 2020 ini. Selaku pelaku bisnis di bidang fashion dan kuliner, Mas Hantoro menyampaikan bahwa memang ada perbedaan di tahun 2020 tetapi juga tidak terlalu berbeda. Perbedaan yang mungkin terlihat signifikan yaitu dibatasinya interaksi sosial sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lesu. Hal itu yang sangat terasa dalam usahanya di bidang fashion karena tidak adanya event yang dapat mendukung promosi produknya.

“Pandemi menyebabkan minimnya interaksi, minimnya event. Sehingga tidak ada kesempatan untuk “pamer” baju baru” kelakar Mas hantoro.

Sementara di bidang kuliner, usaha Mas Hantoro cukup santer di awal-awal masa pandemi. Usaha pizza yang dilakukan secara pre-order diakuinya sempat laris manis. Hal itu tidak terlepas dari himbauan #dirumahsaja sehingga banyak orang yang lebih sering memesan makanan lewat media sosial daripada datang ke tempat makan langsung. Dalam skala lokal, bisnis kuliner online dikatakan cukup bagus karena tidak terpengaruh dengan interaksi yang dibatasi. Hanya saja kontinuitas bisnis tersebut juga sempat diragukan oleh Mas Hantoro sendiri.

Di bidang kesenian, Mas Bima menambahkan tentang kegiatan seni selama masa pandemi. Sepengetahuannya, pentas kesenian atau pertunjukan seni secara umum memang dibatasi. Tetapi kegiatan berkesenian khususnya di Kulon Progo tidak macet 100%. Berkat Taman Budaya Kulon Progo yang sudah dapat dipergunakan serta Dana Istimewa yang diperuntukan untuk pengembangan seni dan budaya, proses berkesenian di masa pandemi masih dapat berlangsung. Hanya saja pentas-pentas yang diadakan tersebut terbatas pada siaran streaming dan tidak dapat dihadiri oleh penonton langsung.

Selama masa pandemi, kehidupan bermasyarat juga sedikit terganggu. Menurut penuturan Mas Kholis, warga desanya sempat geger ketika awal-awal Corona beredar santer. Masyarakat desa tempat Mas Kholis tinggal sangat paranoid dengan adanya virus baru tersebut. Banyak hal dibatasi, salah satunya kegiatan sholat jumat yang ditiadakan. Sementara warga yang merantau tidak dapat kembali ke kampung halaman karena dilarang pulang oleh masyarakatnya. Ketakutan itu kemudian memuncak setelah terdapat salah satu warga yang positif corona. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat di desa Mas Kholis sudah dapat menerima keadaan.

“Warga desa saya masih percaya corona, namun sudah tidak setakut dulu. Mungkin karena sudah ada yang pernah positif dan sampai sekarang terbukti baik-baik saja sehingga tidak lagi paranoid.” kata Mas Kholis.

Kasus serupa yang mungkin tak sama juga dialami oleh Mas Panca. Pada masa awal-awal pandemi, ketika social distancing mulai diterapkan berbarengan dengan maraknya isu pencurian, portalisasi atau pembuatan portal di dusun-dusun gencar dilakukan. Banyak jalan-jalan yang ditutup meskipun itu jalan utama. Menurut Mas Panca, penutupan jalan-jalan tersebut dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Hingga suatu hari Mas Panca mengalami kesulitan akibat banyaknya portal dadakan tersebut. Pada dini hari, kakak perempuan Mas Panca yang sedang hamil sudah hampir melahirkan. Waktu itu laki-laki di rumah itu hanya Mas Panca dan ayahnya, yang kemudian segera mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit. Namun karena sudah larut malam mereka tidak mendapatkan kendaraan. Sampai akhirnya kakak perempuan Mas Panca berhasil melahirkan di rumah, meski tali pusar yang menghubungan si bayi dan ibunya belum terputus. Akhirnya Mas Panca kembali mencari kendaraan dan hanya didapatkan mobil pengangkut telur. Namun masalah belum selesai, mobil tersebut sulit menuju rumah Mas Panca karena banyak portal-portal yang menghalangi. Singkat cerita (dengan usaha yang cukup besar), mobil tersebut berhasil sampai di rumah Mas Panca dan dapat mengantarkan bayi beserta ibunya ke rumah sakit.

Kembali pada soal perekonomian dan panguripan, para jamaah secara bergantian menyampaikan kondisinya selama pandemi. Mas Dhonny yang baru saja diPHK akibat Covid-19 cukup merasa sedih. Namun karena dia belum terlalu memikirkan kondisi finansial pribadinya maka pemecatan tersebut tidak terlalu berat. Senada dengan Mbak Yuli dan Mbak Nafisah yang juga tidak mengalami perubahan yang berarti dalam segi perekonomian personalnya. Mbak Nafisah yang bekerja di instansi pemerintahan masih dapat bertahan di tengah pandemi karena semua program-programnya sudah tersusun secara sistematis. Sementara Mas Bayu yang berkecimpung di bisnis digital justru seperti mendapat berkah. Situasi yang tidak mendukung untuk bertatap muka menjadikan sekolah mau tidak mau menggunakan aplikasi digital yang dirintisnya.

Secara garis besar, kehidupan ekonomi para jamaah tidak terlalu menurun. Meskipun memang ada perbedaan dan perubahan tetapi sebagian besar jamaah masih dapat bertahan. Bahkan Mas Panca sendiri masih kurang yakin apakah kelesuan pada pekerjaan yang ditekuninya itu memang murni karena Covid-19 atau hanya karena bisnisnya sedang menurun. Mas Panca berusaha menganggap bahwa apa yang terjadi di tahun 2020 bukanlah bencana yang mengerikan.

Diskusi kemudian diselingi satu nomor yang dilantunkan oleh Mas Bayu. Lagu Tombo Ati yang diaransemen sedikit keroncong nan santai cukup mendinginkan suasana, meskipun kehangatan justru semakin tercipta. Setelah lagu tersebut selesai diperdengarkan, Mas Bayu lalu terngiang dengan lirik “wong kang sholeh kumpulana”. Mas Bayu lalu membuka diskusi dengan pertanyaan atas makna sholeh itu sendiri sebenarnya apa, sekaligus menyandingkan pemaknaan atas kata kafir.

Menurut Mas Bondan, sholeh itu luwes, pantes, dan benar. Sementara kafir itu adalah melenceng dari kebenaran. Mas Dhonny juga berpendapat bahwa kafir menurutnya adalah menutup diri dari sesuatu sehingga bersikap tidak mau tahu dan mandeg dalam belajar. Sementara menurut Pakdhe Kamino, sesepuh Dusun Kamal, sholeh merupakan orang yang selalu nandur kebaikan, sementara kafir adalah orang yang mendustakan perintah Allah.

Mas Hantoro kemudian menambahkan dengan pengantar kisah singkat dari Umar bin Khattab. Bahwa suatu ketika Umar bin Khattab memergoki seseorang yang mencuri bahan makanan di gudang tempat zakat disimpan. Orang tersebut mengaku bahwa ia orang yang tidak mampu sehingga Umar bin Khattab melepaskannya. Kejadian itu dilaporakan kepada Rasulullah dan Rasulullah berkata bahwa orang tersebut adalah setan yang sedang menyamar dan akan kembali lagi pada malam berikutnya. Dan benar, orang tersebut kembali mencuri dan kembali ditangkap oleh Umar bin Khattab. Orang tersebut mengaku sebagai setan dan memberikan nasehat kepada Umar bahwa jika tidak ingin diganggu setan saat tidur maka bacalah ayat kursi sebelum tidur. Umar lalu melakukan konfirmasi atas nasehat tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian membenarkan nasehat itu dan mengatakan bahwa kebenaran harus diterima dari siapapun itu bahkan dari setan sekalipun.   

Kisah yang disampaikan Mas Hantoro disambung dengan cerita sejarah dari Mas Bima. Mas Bima menyampaikan bahwa Abu Jahal diklaim sebagai kafir karena keputusannya untuk menentang Muhammad meski ia sendiri sebenarnya mengakui kebenaran dan ayat-ayat yang dibawa oleh Muhammad. Abu Jahal waktu itu merupakan sosok yang mempunyai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik di Mekah dengan segala monopolinya. Ia digadang sebagai pemimpin tunggal kaum Mekah yang selama ini hidup secara kesukuan. Namun sejak kehadiran Muhammad yang dinilai akan memperlemah posisinya, Abu Jahal kemudian dengan keras menentang Muhammad agar posisi dan kepentingannya dapat bertahan.

Berdasarkan kedua kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa kafir bukanlah ketika seseorang melakukan kesalahan atau kekeliruan, tapi orang yang telah mengerti kekeliruan tetapi tetap melakukannya ataupun orang yang telah mengerti kebenaran tetapi tidak mau melaksanakannya. Hal tersebut diperkuat oleh tambahan dari Mas Bayu yang menyinggung soal Iblis. Iblis diklaim kafir karena sombong dan merasa lebih baik dari Adam. Bagi Mas Bayu, seseorang dikatakan kafir ketika ia menutup inderanya dari kemungkinan-kemungkinan kebenaran di luar dirinya. Lalu Mas Bima menyimpulkan bahwa salah satu indikasi dari kafir adalah kesombongan, karena merasa yang paling benar daripada orang lain.

“Bahkan merasa lebih baik dari Fir’aun saja menurut saya sudah termasuk kesombongan.” imbuh Mas Bima.

Kembali pada tema RongEwu RongPuluh serta dikaitakan dengan pemaknaan atas sholeh dan kafir, diskusi malam itu ditutup dengan sebuah kesimpulan.  Bahwa tahun 2020 memangalah cukup berat. Tidak hanya pandemi yang menyebabkan perubahan dimana-mana, tetapi kehidupan bernegara yang cukup congkrah. Banyak sekali pertentangan antar kebenaran di tahun 2020, sehingga apabila ini diteruskan maka 2021 juga akan sama saja atau bahkan lebih berat.

"Sekarang ini, kalau sudah ndak sepakat atau sependapat maka sangat gampang manusia untuk membenci sesamanya, kemudian mengutuk-kutuknya. Sungguh meprihatinkan kedewasaan olah literasi bangsa ini. Kalau sampai pada titik nadir ini masih saja mengangkat pedang dan senjata berlandas pada siapa dan bukan apa, dan bukannya berlomba saling berendah hati lalu kemudian bertabayyun untuk mufakat bersama demi Bangsa Indonesia, maka selamat menikmati dzulumati yang tak kunjung ilannuur. Kekal dalam kegelapan, fitnah dan prasangka tiada habisnya, lantas berakhir dengan saling tikam antar saudaramu sendiri." Pungkas Mas Bayu dalam diskusi malam itu.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah tidak merasa benar, tidak saling menyalahkan, dan berbuat baik semampu-mampunya, baik hanya di lingkup keluarga, dusun, desa, atau lingkup yang lebih luas. Tahun 2021 akan bergantung pada pilihan kita: tetap sombong atau belajar berendah hati.

[red/Bima]

Beriklan Disini Beriklan Disini