Reportase Manunggal Syafaat November 2020 - Harta, Tahta, Asmara

Sumber Gambar : Dokumentasi Penggiat

Harta Tahta Asmara merupakan tema yang diangkat dalam forum Manunggal Syafaat edisi November 2020. Tema tersebut berangkat dari pertanyaan-pertanyaan kehidupan para kawula muda yang sedang mengalami kebimbangan. Dalam tema tersebut, Harta diartikan sebagai persoalan perekonomian, Tahta diartikan sebagai kedudukan atau peran seorang dalam kehidupan, sementara Asmara diartikan sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Para jama’ah terlihat antusias karena ketiga hal tersebut sangat bersinggungan dengan kehidupan mereka.

Manunggal Syafaat edisi November 2020 dilaksanakan pada Jumat, 27 November 2020 di Pendapa Aji Kawedhar, Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Forum dibuka dengan dua nomor lagu “Gundul-Gundul Pacul” dan “Suwe Ora Jamu” yang dibawakan oleh jama’ah Manunggal Syafaat sendiri. Setelah dua nomor diperdengarkan kepada para jama’ah yang sudah datang forum kemudian dilanjutkan dengan penyampaian muqaddimah atas tema pada malam itu. Pada intinya, tema Harta Tahta Asmara dimaksudkan untuk menggali makna dan posisi ketiga hal tersebut dalam kehidupan manusia. apakah ketiga hal itu merupakan hal pokok atau hanya persoalan sekunder.

Berdasarkan tiga hal: Harta Tahta Asmara, persoalan Asmara-lah yang menarik perhatian jama’ah. Kebetulan dalam forum malam itu hadir beberapa jama’ah yang sudah berumah tangga, sementara sebagian besar jama’ah yang lain masih berada dalam posisi suwung, atau sendiri. Diskusi menjadi gayeng ketika terjadi dialektika yang unik antara kubu single dengan kubu double. Jama’ah yang telah berumah tangga kemudian membagi pengalamannya terkait persoalan asmaranya. Salah satu jama’ah menyampaikan bahwa jodoh terkadang tidak mesti seperti apa yang direncanakan. Sering terjadi bahwa ketika jodoh sengaja dicari malah tidak ketemu, sementara ketika tidak dicari justru malah datang sendiri. Oleh karena itu jodoh adalah misteri yang manusia tidak akan mampu mengungkapnya. Maka biarlah menjadi misteri dan terungkap sendiri.

“Jodoh saya datang malah di saat saya sudah pasrah dalam mencari. Ha ditolak bola-bali (berulang kali) e!” Imbuh Mas Habib malam itu, setelah menceritakan kisah romansa mudanya.

Jama’ah lain juga menambahkan dengan menyampaikan bahwa jika meminjam bahasa al-Qur’an, Asmara khususnya Wanita dan Anak disebutkan lebih awal dibanding dengah Harta maupun Tahta. Al-Qur’an menempatkan Asmara dalam posisi utama karena asmara sendiri adalah hubungan cinta antara manusia dengan sesama manusia yang dapat memberikan ketentraman. Oleh karena itu membangun sebuah keluarga merupakan “laku” yang cukup dihargai dengan nilai tinggi di dalam Islam. Modal dalam membangun keluarga menurut salah satu jama’ah yaitu penyesuaian watak dalam berpasangan serta kemantapan hati untuk berumah tangga.

Kemantapan hati dalam membangun sebuah keluarga kemudian dielaborasi lagi oleh para jama’ah. Hal itu disebabkan karena sebagian jama’ah masih ragu-ragu untuk menapaki jenjang hubungan yang lebih tinggi. Keraguan tersebut khusunya karena persoalan memilih jodoh yang tepat serta kondisi ekonomi yang masih belum cukup untuk menjalani kehidupan pernikahan. Berkaitan dengan memilih jodoh yang tepat. Mas Bayu mengutip kata temannya yang bernama Mas Dani, menyampaikan bahwa sebenarnya manusia itu berjodoh dengan siapa saja, namun kita berpuasa, hanya memilih satu di antara banyaknya orang.

Ketepatan memilih jodoh juga direspon jama’ah dengan pertanyaan terkait perhitungan weton. Pertanyaan tersebut berangkat dari kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu menghitung weton ketika hendak melakukan pernikahan. Ada mitos bahwa jika weton ini bertemu dengan weton ini maka dalam berumah tangga tidak akan langgeng. Hal tersebut kemudian direspon oleh jama’ah yang lain dan menyampaikan bahwa weton merupakan ilmu titen yang bisa benar bisa salah. Weton biasanya hanya berkaitan dengan karakter seseorang sehingga dapat dijadikan alat bantu untuk mengenali diri masing-masing pasangan. Weton yang menggambarkan elemen-elemen alam seperti Legi (Angin), Pahing (Api), Pon (Air), Wage (Tanah), Kliwon (Semua Unsur) dimaknai sebagai watak yang menonjol dalam diri manusia. Orang Wage yang berwatak tanah misalnya, maka akan dominan atas elemen tanah. Oleh karena itu perlu pengendalian diri untuk menekan unsur negatif dan memaksimalkan unsur positif dari tanah tersebut.

Masih berkaitan dengan memilih jodoh, salah satu jama’ah juga menyampaikan bahwa untuk mengetahui apakah pasangan tersebut cocok atau tidak maka perlu ditanyakan pada suara hati. Di dalam diri manusia sangat banyak sekali suara seperti suara nafsu, suara iblis, suara malaikat, dan suara hati. Oleh karena itu perlu berbicara dengan diri sendiri agar suara hati tersebut dapat berbicara. Hal itu juga dapat membantu untuk menemukan apa yang sekiranya diridhai Allah. Banyak hal yang sebenarnya disukai manusia tetapi tidak baik menurut kacamata Allah, ataupun sebaliknya.

Diskusi dilanjutkan dengan respon salah satu jama’ah atas keraguan beberapa jama’ah lain dalam berumah tangga khususnya terkait penghidupan atau perekonomian. Disampaikan bahwa hal yang harus disadari betul adalah bahwa Tuhan pasti mencukupi kebutuhan manusia. Ketakutan-ketakutan akan masa depan yang berhubungan dengan kondisi finansial terutama ketika memikirkan biaya pernikahan harus segera dipatahkan. Pikiran-pikiran yang buruk sehingga menyebabkan perasaaan was-was harus segera dihentikan. Hal itu mengingat manusia tidak pernah tahu akan misteri Tuhan, dan ketika masanya telah datang misteri itu akan terungkap dengan sendirinya. Dicontohkan oleh salah satu jama’ah bahwa ketika hendak lamaran dulu hanya memiliki uang 300.000, pun ketika hendak menikah juga hanya mempunyai modal 250.000. Tetapi ada saja jalan rejeki sehingga kekurangan-kekurangan atas biaya pernikahan dapat terpenuhi.

Sesi curhat masa romansa dipuncaki dengan Mas Hantoru. Ia bercerita tentang kesiapan dan kemantapannya dulu dalam memulai berkeluarga. Sebuah statemen yang lantas memotivasi kaum suwung pada malam itu dari Mas Hantoru adalah,

Sik njaluk wong 1 wae Gusti ngabulke, opo meneh sik njejaluk wong 2 (berdoa 1 orang saja Tuhan mengabulkan, apalagi kalau berdua).” Kemudian direspon oleh Mas Bayu, “Berarti bener to, tenang. Sewu dalane!”

Kemudian diikuti kelakar jama’ah lainnya.

Kesimpulannya, harta tahta asmara adalah hal yang saling berdialektika dalam kehidupan manusia. Ketiga hal tersebut bukan merupakan urut-urutan prosedural tetapi sebuah proses perjalanan manusia yang antara satu dengan yang lain memilki keunikan masing-masing. Sejatinya ketiga hal tersebut hanya merupakan cara atau jalan untuk mencapai sesuatu yang sejati, sehingga tidak perlu dipikirkan secara mendalam apalagi sampai mbentoyong. Hal yang terpenting dalam hidup ini adalah melakukan kebaikan semampunya dan fokus pada apa yang sedang dihadapi atau dikerjakan. Niscaya, harta tahta asmara bergulir wajar dalam kehidupan manusia.[]      

Red/Bima

Beriklan Disini Beriklan Disini