Surya dan Naungan Purnama

Sumber Gambar : Pinterest

Awalnya aku datang sebagai matahari tanpa pamrih.

Kau pun bersaksi untuk bersatu merotasi

Namun purnama semakin indah dan aku jatuh dalam pelukan

Aku lupa jarak, tergelincir, dan membakarmu hingga hancur.

 

Kau tak lagi ingin membersamai surya pagi.

Kau ingin aku menetas sebagai cahaya.

Tapi matahari tetap matahari.

Matahari lahir dari cahaya, sayang.

 

Engkau ingin tersenyum di puncak tapi enggan mendaki.

Engkau menginginkan senja tapi menolak teriknya.

Engkau suka secangkir kopi tapi tiada mau menyeduh.

Engkau rindu sampai tapi tak ingin melangkah.

 

Kalau yang panjang kukunya, mengapa yang kau potong tangannya?

Kalau yang salah harapanmu, mengapa yang kau tebas cinta kasihmu?

Kalau kau ingin cepat menuai, tanamlah jagung.

Tapi aku ingin menanam jati, kekasih.

 

Jati yang bertahan dalam panas dan hujan.

Jati yang tak ubah meski beliung menusuk jantung.

Jati yang gagah meski juga sering meranggas.

Jati yang ditanam sekarang lalu tumbuh nanti di masa anak cucu.

 

Tiada salah kau menunggu di nirwana sana.

Tiada salah kau memintaku untuk mendaki sendiri.

Tiada salah dengan waktu dan kenyataan.

Tapi ketika ku sampai surga nanti, pasti akan kuhitung ulang: aku menemuimu atau berjumpa rembulan.

 

Beye Ade

Yogyakarta, 26 November 2019

Beriklan Disini Beriklan Disini