Telaga Widodaren

Sumber Gambar : Google Image

Bunyi gemericik air mengalir dari sungai kecil terdengar jelas bila dalam senyapnya malam. Ini semakin membuat suasana syahdu dalam timpahan derasnya suara gerojokan dari air terjun yang tidak begitu deras dan jatuh ke telaga yang tidak begitu besar dalam kubangan. Telaga ini terletak di pinggir hutan yang masih dipenuhi dengan pohon-pohon besar di suatu desa di sebuah kabupaten kecil di Jawa. Telaga ini dinamai dengan Telaga Widodaren (tempat para bidadari).

Konon katanya telaga ini sering untuk mandi para bidadari yang turun dari kahyangan. Kabarnya air telaga ini mempunyai khasiat dapat membuat orang yang membasuh muka dan mandi di telaga ini akan menambah aura  kecantikan, panjang umur dan awet muda.  

Legenda telaga ini membuat banyak orang dari luar daerah banyak yang datang hanya sekedar untuk membasuh muka atau mandi sepuasnya. Maksud kedatangannya juga bermacam-macam, dari hanya berwisata atau pun benar-benar mempunyai satu tujuan penting. Banyak juga orang yang menjadikan telaga dan kawasan ini sebagai ajang mencari jodoh. Banyak pemuda dan pemudi bertandang ke telaga ini sekedar untuk berwisata dan mencuci mata.

Lambat laun dengan adanya telaga ini menjadikan daerah sekitar telaga ini menjadi kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan dan dimanfaatkan oleh warga masyarakat sekitar untuk berjualan untuk menambah penghasilan. Maka banyak bermunculan warung makan kecil, penjual cindera mata, pedagang asongan dan  penyewaan tikar.  Kawasan ini telah menjadi kawasan yang cukup ramai.

Tetapi tidak semua orang suka dengan kondisi yang demikian itu. Ada sebagian orang yang tidak suka dengan perubahan yang terjadi pada daerah sekitar telaga ini.

Daerah di sekitar telaga yang dulu memang merupakan daerah yang sangat sepi. Suasana sekitar begitu hening. Dengan air yang jernih sehingga dapat untuk bercermin. Ini membuat banyak orang merasa nyaman. Hanya sekedar duduk di tepi sambil memandang ke dalam telaga. Atau sekedar menerawang menatap jauh ke depan dengan pandangan yang tidak jelas atau tatapan hampa.

Pohon-pohon tinggi berusia tua mengelilingi dengan rimbunan dedaunan. Masih sering terdengar suara burung kecil yang bersautan di pagi hari. Tidak ketinggalan suara dari katak dan binatang kecil yang semakin menambah semarak nyanyian alam dengan nada tidak teratur tetapi begitu indah terdengar di telinga. Suasana ini  terdengar bak  orkestra alam yang harmoni.

Kini, semua itu telah sirna. Semuanya berubah menjadi kebisingan dan kesemrawutan. Banyaknya orang yang berdatangan dari berbagai daerah mengusir keheningan. Kini suara ribut orang banyak atau cekikikan orang sedang dimabuk asmara yang tidak henti-hentinya menghiasi sepanjang hari.

Kesejukan dan keasrian dari daerah sekitar dengan penuhnya pepohonan yang rindang ini sekarang digantikan dengan adanya bangunan-bangunan baru berupa warung yang berjejer tak rapi. Ditambah dengan sembarangan orang sekitar membuang sampah sehingga pemandangan menjadi tidak sedap dipandang mata.

Orang yang tidak suka dengan perubahan ini dengan beberapa alasan. Ada yang berpandangan bahwa ini bukan lagi sebuah kemajuan tetapi sebuah kemunduran. Sebuah kekayaan alam telah dikomersialisasikan tanpa memperhatikan dan merawat lingkungan sekitar dengan baik. Mereka hanya memikirkan bagaimana menghasilkan uang bagi mereka dan keluarganya. Mereka tidak lagi memperhatikan tentang bagaimana memahami hubungan antara manusia dan alam ini dapat terjaga dengan baik.

Menurut mereka ini diakibatkan mitos yang disandang oleh telaga sebagai pemberi berkah kecantikan dan juga panjang umur bagi manusia. Sebagian dari kalangan agamawan mengkhawatirkan bahwa dengan mitologi ini akan dapat membuat iman seseorang akan goyah. Mereka akan menggantungkan sesuatu kepada selain-Nya. Para tokoh agama khawatir ini membuat sebagian masyarakat akan melupakan kewajiban sebagai hamba untuk beribadah menyembah-Nya.

Kekhawatiran ini sudah mulai terbukti. Masjid dan mushola yang ada di sekitar telaga telah mulai berkurang jamaahnya. Dulu sebelum telaga ramai dikunjungi orang, jamaah yang ada di masjid itu banyak di setiap waktu sholat. Dan sekarang ketika waktu sholat orang masih saja menjaga barang dagangannya dan masih berbincang dengan pengunjung lain.

Kondisi ini membuat keresahan di sebagian masyarakat. Suatu hari mereka berkumpul untuk membahasnya.

“Daerah telaga juga sekarang menjadi kotor dan kumuh. Warung-warung dan lapak suvenir tidak rapi. Tidak enak dipandang mata”, kata Pak Harto, salah satu tokoh masyarakat yang disegani karena kekayaannya.

“Tapi kan mereka hanya orang kecil yang ingin menambah pendapatan keluarga saja. Tidak lebih dari itu” kata Pak Karyo coba mendebat.

“Iya. Tapi kan harusnya rapi. Dengan kedai yang seadanya terlihat kotor. Kalau mungkin bisa dibuat bangunan yang bagus biar bisa indah,” jawab Pak Harto dengan sedikit ketus.     

“Menurut saya kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Lama-kelamaan masyarakat ini akan terjebak dalam kesyirikan karena mitos telaga. Dan akibatnya daerah ini akan mendapatkan azab dari Allah”, kata salah seorang tokoh agama di situ.

“Iya benar”, jawab yang lain serempak.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita tutup saja daerah itu. Kita tutup paksa dengan mengadakan aksi demo dan penyegelan “, kata pak Harto  dengan semangat.

“Setujuuuuu!” yang lain serempak menjawabnya.

“Apa sebaiknya tidak diingatkan dulu saja. Nanti kalau tidak mau baru kita tutup paksa rame-rame,” usul pak Hadi, salah satu tokoh masyarakat di situ.

“Itu terlalu lama. Lebih baik langsung kita tutup saja. Setelah itu baru kita rembug enaknya bagaimana. Bagaimana, setujuuuuu?” kata Pak Harto dengan lantang.        

“Setujuuuu!”    

Rapat yang cukup panas itu menghasilkan keputusan untuk mengadakan aksi. Mereka berencana membuat suatu aksi penutupan area wisata telaga. Mereka merencanakan aksi demonstrasi yang besar dan akan mengundang tokoh yang berpengaruh dari luar daerah sehingga apa yang mereka suarakan akan lebih didengarkan. 

Aksi itu akhirnya terlaksana dengan ‘lancar’. Daerah wisata telaga itu akhirnya ditutup untuk sementara waktu.

 ***

Beberapa tahun kemudian suasana daerah sekitar telaga telah berubah. Telaga telah dirombak sehingga lebih indah. Ada ruangan khusus untuk mandi dan mencuci muka bagi pengunjung. Jalan-jalan menuju telaga diperbaiki. Ada taman-taman kecil untuk duduk santai.

Tidak ada lagi warung-warung makan kecil, penjual suvenir dan asongan serta penyewaan tikar. Sekarang  telah berdiri restoran yang menyediakan aneka makanan dan minuman mengundang selera. Dilengkapi dengan mini market yang menyediakan beraneka kebutuhan, oleh-oleh dan suvenir. Dan juga telah berdiri penginapan-penginapan  yang menyediakan berbagai fasilitas untuk berisitirahat.

Tidak ada cekikikan pemuda-pemudi di sekitar telaga. Cekikikan itu telah berpindah ke dalam kamar-kamar penginapan yang berkasur empuk.

Keramaian tidak hanya di sekitar telaga saja, tapi juga di dalam kafe-kafe yang menyediakan fasilitas bernyanyi dan berjoget hingga larut malam.

Telaga Widodaren tetap ramai dikunjungi. Masjid dan mushola tetap sepi jamaah.[]

 

Tri Apriyadi

Beriklan Disini Beriklan Disini