Wayang Simbol Watak Manusia

Sumber Gambar : google images

               Tokoh Togog, Mbilung, Semar dan Bathara Guru konon masih saudara sekandung. Menurut cerita, mereka terlahir ke dunia terjadi dari sebutir telur yang pecah lalu berubah wujud menjadi empat manusia yang semuanya bergelar dewa. Yang tertua bernama Sanghyang Puguh yang kemudian sering disebut Togog. Adiknya bernama Sanghyang Sarawita yang juga sering dipanggil Mbilung. Yang ketiga bernama Sanghyang Ismaya yang kemudian disebut Semar Badranaya. Yang paling bungsu bernama Sanghyang Utipati dan juga bernama Sanghyang Pramesthi Bathara Guru.

               Didalam kisahnya sesungguhnya Togog terlahir dengan wajah dan tubuh yang sempurna. Namun dia paling tak kuat menahan rasa lapar. Setelah berusaha menelan gunung mulutnya menjadi sobek, perutnya membesar, wajahnya pun menjadi buruk pula. Setelah kejadian itu mereka lalu berunding mengadakan perjanjian dan bersepakat untuk memenuhi kewajibannya sendiri-sendiri. Dalam hal ini Semar memberikan dua pilihan kepada Togog dan MBilung kedua kakaknya untuk memilih mengabdi kepada ksatria pembela kebenaran yang sering menang dalam berperang tetapi sering hidup sengsara, atau memilih pergi ke tanah seberang mengabdi kepada raja berwatak jahat yang sering kalah perang, namun hidupnya tak akan kelaparan, hatinya selalu senang dan bergelimang harta. Togog dan Mbilung memutuskan memilih pilihan yang kedua, karena ingin hidup yang serba berkecukupan. Mereka berdua lalu pergi ke tanah seberang mengabdi kepada raja yang berwatak angkara murka, untuk memenuhi keinginan hasrat hatinya.

               Setelah kedua kakaknya pergi, Semar lalu meminta kepada Sanghyang Utipati adik bungsunya untuk tinggal di dataran tinggi yang bernama Kahyangan Suralaya dan menjadi pimpinan para dewa, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sanghyang Pramesthi Bathara Guru. Cerita selanjutnya Semar lalu pergi mengembara mengabdi kepada ksatria pembela kebenaran yang hidupnya sering berkelana masuk ke hutan rimba yang jauh dari keramaian dan kemewahan duniawi.

               Cerita ini sepertinya memang tak tak masuk akal, karena manusia memang bukan berasal dari telur, tetapi lahir dari rahim seorang ibu. Namun harap maklum, karena dunia wayang memang penuh dengan simbol-simbol ajaran hidup yang sangat sulit untuk dipahami.

               Menurut cerita orang tua, makna telur adalah wadag atau simbol tubuh manusia. Sedangkan empat dewa didalamnya adalah simbol isi batin manusia yang dimulai dari masa muda lalu memasuki masa tua, dan berbagai macam ilmu dan pengalaman hidup yang dimilikinya. Togog digambarkan sering merasa lapar dan berusaha menelan gunung. Hal ini hanya berupa sindiran nafsu serakah manusia dimasa muda, jika nafsu itu dituruti maka gunung pun akan ditelan juga.

               Togog dan Mbilung memilih mengabdi kepada raja yang kaya raya: anak muda biasanya lebih suka berfoya-foya. Togog dan Mbilung hidup dibawah kekuasaan raja angkara murka: anak muda yang belum berilmu biasanya cenderung dikuasai sifat egois dan mudah marah. Togog dan Mbilung simbol masa muda namun umurnya lebih tua daripada Semar: hal ini dikarenakan masa muda itu datangnya lebih dahulu, sebelum manusia menjadi tua seperti tokoh Semar.

               Togog dan Mbilung berada di tanah seberang yang dibatasi oleh air: air adalah simbol kejernihan hati dan ketenteraman jiwa. Orang yang jernih hatinya dan tentram jiwanya, dia akan lebih mampu mengendalikan nafsunya sehingga cepat hijrah dari sifat egois dimasa muda, lalu cepat berpindah ke masa dewasa yang berjiwa tua seperti tokoh wayang Semar. Mbilung dan Togog juga merupakan bisikan baik dan bisikan buruk dalam batin manusia. Mbilung simbol bisikan baik, yang dalam film sering diwujudkan jin berbaju putih, sedangkan Togog adalah simbol bisikan buruk yang digambarkan sebagai iblis berbaju hitam, yang sering membujuk hati manusia untuk berbuat jahat. Dalam seni topeng kayu bernama Penthul dan Tembem yang warnanya juga putih dan hitam. Togog dan Mbilung digambarkan sebagai dewa yang tak bisa mati. Hal ini hanya untuk menjelaskan, bahwa semua manusia yang lahir di dunia, dia akan selalu diikuti bisikan baik dan bisikan buruk didalam hatinya masing-masing. Semua tokoh jahat dalam dunia wayang, hanyalah sebagai gambaran orang yang lebih sering mendengarkan bisikan buruk didalam hatinya sendiri.

               Wayang Togog oleh pujangga dibuat lebih besar daripada wayang Mbilung: hal ini hanya untuk memberikan gambaran, bahwa bisikan baik untuk mengajak ke jalan yang benar, biasanya lebih sering dikalahkan oleh bisikan buruk yang tak lain hanyalah nafsu kita sendiri. Orang yang belum dewasa pikirannya, biasanya lebih mudah dibujuk bisikan iblis daripada diajak berbuat baik. Selain itu, sifat keras bisikan buruk yang angkuh dan sombong juga terdapat dalam nama Sanghyang Puguh. Puguh artinya suka membantah karena sulit dirubah pendiriannya. Hal ini berbeda dengan adiknya yang bernama Sanghyang Sarawita. ‘Sara’ dari kata sengsara, ‘wita’ dari kata suwita yang berarti pengabdian. Dalam pengabdiannya kepada manusia bisikan baik itu sering merasa sengsara, karena sering dibantah oleh nafsu manusia itu sendiri. Wayang Mbilung berbentuk kecil dengan kepala penuh penyakit borok: hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa Mbilung sering merasa pusing dan sakit kepala, karena sering gagal membimbing manusia kejalan yang baik. Mbilung berasal dari kata ‘bilung’. BIlung artinya bingung dan linglung. Mbilung dewa penjaga bisikan baik itu sering merasa bingung dan linglung. Hatinya sering bertanya-tanya: “mengapa manusia itu kok sulit diajak menjadi orang yang berwatak baik to?”

               Petunjuk simbol watak anak muda dan watak orang tua yang berbeda memang ada didalam tokoh Togog dan Semar. Mata Togog terlihat tajam membelalak. Mata anak muda biasanya sering jelalatan dan lirak-lirik untuk mencari sesuatu yang diinginkannya. Bibir Togog lebar dan tebal: anak muda yang belum berilmu sering berbicara keras dan sering lupa tatakrama dalam berbicara. Perut Togog terlihat buncit dan besar: anak muda biasanya sering suka berpesta dan mengumbar nafsu makannya. Hal ini sangat bertentangan maknanya dengan simbol yang ada didalam wayang Semar.

               Wajah Semar terlihat seperti orang mati. Orang yang telah belajar ilmu agama telah paham bahwa orang hidup sewaktu-waktu bisa mati, maka membekali diri dengan amal soleh adalah pilihan yang terbaik. Rambut Semar berjambul putih: orang yang sudah taat beragama telah memilih tentang hal-hal yang suci saja. Mata Semar terlihat rabun: mata orang setua Semar sudah tak mau lagi melihat gemerlapnya dunia, yang sering membuatnya lupa kepada Tuhannya. Hidung Semar terlihat kecil: orang yang kuat imannya sudah tak mau lagi mencium aroma dosa, yang sering menggoda untuk berbuat nista. Bibir Semar berbentuk kecil dan tertutup: orang yang beragama diwajibkan berpuasa dan selalu menjaga lisannya, agar terbiasa baik dalam berbicara. Jari tangan Semar terlihat menunjuk: orang setua Semar berkewajiban menunjukkan ke arah jalan yang baik kepada anak cucunya. Perut Semar terlihat besar dan tampak berat: orang yang telah bertobat, dalam hatinya merasa kekenyangan makan dosa, dan menyesali kerakusan serta keserakahannya di masa muda.

               Dalam kisahnya Semar memilih mengabdi kepada ksatria pembela kebenaran. Hal ini  hanya untuk menjelaskan bahwa orang yang telah memasuki usia senja seperti Semar, biasanya lalu bertobat kemudian rajin bersembahyang dan memilih jalan kebenaran yang dilaluinya, sebelum dia dipanggil oleh yang maha kuasa.

               Dalam cerita ini tokoh Bathara Guru sebagai simbol kumpulan ilmu dan pengalaman hidup manusia yang muncul di kelir yang paling akhir. Hal ini untuk menggambarkan, bahwa pada akhirnya ilmu dan pengalaman hiduplah, yang kemudian menuntun manusia untuk menekuni profesinya dibidangnya sendiri-sendiri. Orang yang menimba ilmu dan berpengalaman dibidang kedokteran misal, maka dia pun akan menjadi dokter. Orang yang menekuni ilmu dan berpengalaman dibidang mesin, maka dia pun akan menjadi montir yang baik dan lain sebagainya. Selain itu, telah banyak pula orang yang sering mengatakan, bahwa pengalaman diri adalah guru yang terbaik.

               Bathara Guru tinggal di dataran tinggi bernama Kahyangan Suralaya. Dataran tinggi sebagai gambaran simbol derajat manusia. Derajat manusia yang tertinggi adalah guru atau penasehat. Karena di istana raja ada pernasehat raja, di istana Presiden juga ada penasehat presiden. Orang yang telah mampu menasehati dirinya sendiri, dia juga akan memiliki derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhiratnya nanti.

               Bathara Guru menjadi pimpinan para dewa. Makna ‘Bathara’ dan kata ‘dewa’ adalah bersifat abadi, sedangkan guru berarti teladan. Orang yang berwatak baik dan banyak ilmunya yang bermanfaat, selamanya akan tetap abadi menjadi teladan. Meskipun orangnya telah meninggal dunia, namun ilmunya akan tetap terus dipelajari dan diteladani, dari generasi ke generasi manusia selanjutnya. Bisakah kita memiliki watak yang lebih baik dan pantas menjadi contoh dan teladan untuk anak cucu kita nanti?

Pengasih, 11-2-2020

Suyatin

 

Ilustrasi oleh : Agus Ariska Panca

Beriklan Disini Beriklan Disini